Seolah-olah cinta tak ingin ditinggalkan

Iya saya sadar, judulnya terlalu lebai. Biar kelihatan “wah” saja sih.

Saat ini saya ingin fokus belajar hal-hal yang esensial saja. Mengingat ketersediaan waktu yang tidak banyak. (Sebenarnya hanya dalih untuk manajemen waktu dan manajemen stress yang kurang rapi) Oleh karena itu, saya rasa perlu menjeda sementara waktu untuk belajar beberapa hal lain yang “kurang esensial”.

Salah satu yang ingin saya korbankan adalah bahasa Jerman. Sepertinya memang sangat tidak esensial bagi saya untuk mempelajarinya. Pada satu tulisan yang lalu, pernah saya bahas kenapa saya begitu cinta dengan bahasa Jerman. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah tidak ada manfaatnya jika saya mempelajarinya, kecuali sedikit.

Tentang bahasa Jerman, kalau ditinjau dari penuturnya, bahasa Jerman tidak begitu bertaut dengan diri saya, sebagai seorang Muslim dan seorang Indonesia. Tidak ada satu negara Islam pun yang menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa resmi negara. Sejumlah negara Islam, terutama di Afrika utara justru memakai bahasa Perancis. Nah seharusnya dia yang saya pelajari. Dulu ada teman yang mendapat pelajaran bahasa Perancis sewaktu sekolah, dan saya tanya-tanya sedikit tentangnya, karena ia terlihat sangat antusias mempelajarinya. Saya masih cukup ingat kenapa ia sangat tertarik mempelajarinya walaupun menurutnya pun bahasa Perancis sangat sulit, terutama pengucapannya yang sama sekali berbeda dengan tulisannya, berbeda dengan bahasa Jerman. Ia berusaha mencintai bahasa Perancis karena terinspirasi oleh satu novel favoritnya, (seingat saya) Laskar Pelangi yang tokoh utamanya juga belajar bahasa Perancis.

Walaupun tidak ada negara Islam yang memakai bahasa Jerman, saat ini, di Jerman semakin banyak imigran dari Turki yang datang, yang tentunya mereka harus bertutur dengan bahasa Jerman agar diterima di negara itu sebagai warganya. Hal ini cukup menjadi alasan saya untuk mencintai bahasa Jerman. Ya, barangkali di masa depan saya bisa berkunjung ke saudara Muslim di Jerman.

Sebagai orang Indonesia, saya pikir kita tidak ada sejarah yang baik atau buruk dengan Jerman secara langsung, pada zaman dahulu kala. Maksud saya, Jerman tidak pernah menjajah negara kita pada zaman kolonial, ataupun membela atau memerdekakan kita saat itu. Justru di samping itu, ada seorang tokoh kita, mantan presiden B.J. Habibie yang mengangkat nama baik Indonesia di mata Jerman atas prestasi-prestasi beliau. Beliaulah yang sedikit banyak telah menginspirasi saya untuk tetap mempelajari bahasa Jerman. Yang lama-kelamaan saya menemukan beberapa kata serapan bahasa Indonesia yang asalnya dari bahasa Jerman (atau mungkin Belanda sih).

Kembali ke tajuk, dari dulu ternyata saya belum pernah mendengarkan lagu dalam bahasa Jerman. Selain karena saya ikut golongan yang mengharamkan musik (tetapi tidak ekstrem), saya pernah mendengar bahwa bahasa Jerman tidak cocok kalau dinyanyikan. Pengucapannya itu sulit, seperti bahasa Perancis, juga bahasa Korea sebenarnya.

Saya bahas tentang lagu, karena ada pendapat bahwa mendengarkan lagu dalam bahasa yang dipelajari itu bisa membantu untuk belajar. Ya, sedikit banyak memang membantu. Menurut saya hanya memberi kita referensi cara pengucapan saja, seperti bahasa Jerman ini. Sedangkan aspek lain, semisal tata bahasa dan kosa kata, saya rasa tidak membantu, karena lagu itu adalah sastra, yang tingkatannya di atas bahasa komunikasi lisan biasa.

Saya belum pernah menemukan lagu-lagu bahasa Jerman karena keburu menganggap “lagunya pasti tidak enak didengar”. Maher Zain yang poliglot saja cuma membuat versi bahasa Perancis untuk beberapa lagunya, dan bahasa Turki, bukan bahasa Jerman. Nah kemarin saya iseng mencari lagi lagu-lagu bahasa Jerman terbaik. Akhirnya saya menemukan satu band yang –menurut satu komen di Youtube– adalah band terbaik Jerman, namanya Silbermond. Lagu-lagunya di Youtube begitu enak didengar, sampai saya tidak merasa pengucapannya itu sulit.

Silbermond ini vokalisnya wanita, mengingatkan saya pada satu band J-Pop favorit saya juga, Ikimonogakari yang juga merupakan salah satu band terbaik, di Jepang. Mengingat ke belakang, saat saya belajar bahasa Jepang, saya juga mencari-cari lagu Jepang untuk membantu belajar. Dari sekian banyak penyanyi dan band, saya lebih memilih Ikimonogakari. Lagu-lagunya memang kebanyakan tentang cinta, tetapi cinta yang universal, bukan sekedar hubungan romantisme antara cowok dan cewek yang dilanda asmara. Sampai saat ini saya kadang-kadang masih mendengarkan lagu-lagu Ikimonogakari. Walaupun sudah tidak antusias belajar bahasa Jepang, atau justru ingin saya lepaskan cinta ini, Ikimonogakari menjadi perekat cinta pada bahasa Jepang. Sama halnya dengan Silbermond, mungkin ia akan menjadi perekat dengan bahasa Jerman, jika saya mencintainya, padahal saya ingin melepas cinta dengan bahasa Jerman. Mungkin ia tak mau ditinggalkan.

Tentang kutipan atau quote

Hari ini, saya membahas tentang quote atau kutipan. Sejak beberapa waktu belakangan, saya jadi hobi mengumpulkan quotes. Dari siapa saja, saya like, termasuk pernah saya like quote dari “orang bodoh”. Quotenya seperti ini: “was andere Menschen von dir denken ist nicht dein Problem“. Iya, itu bahasa Jerman. 😀 saya dapat dari sebuah FB page bahasa Jerman.

Suatu hari, quote itu (atau zitat dalam bahasa Jerman) dimunculkan lagi. Saya langsung like, dan tanpa sengaja saya melihat sebuah komen yang tampaknya tidak setuju. Komentar itu mengatakan, “tolong jangan quote dari orang itu, dia bodoh”, kira-kita begitu. Ternyata ada beberapa komentar yang senada dengan itu di bawahnya.

Kalau diterjemahkan, kutipan itu berarti “apa yang dipikirkan orang lain atas dirimu, itu bukan masalahmu”. Sepintas terlihat biasa saja, dan menurut saya ada benarnya, waktu itu. Apalagi saya sedang mencari konsep diri di dalam masyarakat. 🙊 minda saya langsung mengiyakan tanpa protes.

Namun setelah saya membaca komentar tadi, hati nurani saya tergugah. Memang yang dipikirkan orang lain itu bukan masalah kita, lebih ke masalah mereka. Tetapi bukankah kita yang menyebabkan masalah tersebut? 😀

Manusia memang berbeda-beda, kita sudah mafhum. Ada yang suka menilai orang lain, ada yang cuek, dlsb. Jika orang lain masih mau memikirkan kita, artinya dia begitu perhatian kepada kita. Tetapi masalahnya, yang dipikirkan mereka itu apa? Positif, ataukah negatif itu yang tidak kita ketahui. Dan jika hanya mereka pendam dan justru jika dijadikan bahan obrolan dengan orang lain, itu sudah bukan masalah mereka saja. Itu sudah jadi masalah untuk kita juga.

Yah pembahasan ini sudah sedikit melenceng dari bahasan pokok. Jadi, intinya sejak saya salah memahami kutipan itu, saya jadi lebih selektif dengan pemilik kutipan. Kutipan tadi itu adalah kutipan seorang komedian ternyata. Itulah maksudnya kenapa ia dibilang bodoh, dan maksud dishare di FB page itu untuk sekedar humor, yang saya anggap serius.

Edit 5/02: saya tambahkan gambar quote, ternyata sang penggagas kutipan adalah seorang penulis terkenal, Paulo Coelho, bukan komedian.

Hakikat kutipan

Salah satu semangat saya menyukai kutipan adalah dari sebuah hadits1 yang artinya kira-kira:

“Kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, maka dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya”

Kebanyakan kutipan mengandung hikmah, kecuali kutipan “bodoh” tadi ya. Jadi, jika sekiranya ia bermanfaat, maka kita bisa menjadikannya ilmu. Karena kutipan-kutipan itu diperoleh bukan dari orang-orang sembarangan. Mereka biasanya orang-orang terkenal atau orang-orang sukses yang mana kuipan mereka terinspirasi dari pengalaman hidup mereka.

Kutipan gambar mim

Saat ini ada fenomena humor populer melalui gambar, atau disebut meme (dibaca mim). Gambar-gambar itu biasanya sama, hanya beda kata-kata yang lucu. Sebagian gambar-gambar itu, karena ingin terlihat lucu, ada yang mengatasnamakan kutipan oleh orang ternama. Ini sangat disayangkan sebenarnya. Saya anggap sebagai sebuah kedustaan. Coba lihat contoh berikut2:

Menurut pembuat gambar, itu hanya plesetan. Tetapi rasanya kurang etis jika mencatut nama tokoh asli. Bagi orang yang tidak paham, bisa saja itu akan dianggap benar-benar ucapan sang tokoh.

Semakin membuat diri ini waspada terhadap kemungkinan kutipan abal-abal.

^1: hadits tersebut sebenarnya ghariib http://umar-arrahimy.blogspot.co.id/2015/03/takhrij-hadits-hikmah-milik-orang.html

^2: http://www.lucu.me/2016/05/20-meme-plesetan-quotes-tokoh-tentang.html

Mungkin perlu mencoba OpenSUSE

Setidaknya ada 3 atau 4 perusahaan pengembang sistem operasi berbasis Linux yang saya ketahui: Canonical, Red Hat, Novell, Mandriva. Saya sudah pernah atau sedang menggunakan sistem operasi buatan tiga vendor dari empat itu. Tinggal satu yang belum pernah saya cicip, yaitu OpenSUSE besutan Novell dan sekarang dipisah menjadi SUSE Linux GmbH ^1 [^2]

SUSE merupakan singkatan dari System und Software Entwicklung, dalam bahasa Jerman. Menurut sejarahnya, perusahaan ini didirikan sejak 1992, berpindah kepemilikan beberapa kali, dan yang terakhir ini dimiliki Micro Focus International. Walaupun perusahaannya sudah hampir seperempat abad berdiri, tetapi OpenSUSE sendiri dirilis sejak 2005.

Kenapa saya merasa perlu menjajal OpenSUSE adalah karena saya pernah belajar bahasa Jerman. Ada rasa kedekatan dengan Jerman. Selain itu, desktop utama yang diusung OpenSUSE adalah KDE. Dan sebelumnya saya sudah menambatkan diri ke KDE, yang mana headquarter pengembangnya ada di Jerman, yaitu KDE e.V. Dan Jerman juga menjadi markas The Document Foundation yang memelihara LibreOffice dan format dokumen terbuka.


[^2]: GmbH: Gesellschaft mit beschränkter Haftung

3J: Jawa Jepang Jerman

Saya orang Jawa, pernah belajar bahasa Jerman, dan ingin pergi ke Jepang. Cukup 3 ini yang ingin saya fokuskan. Soalnya keren, huruf J-nya pas 3. Dan tahu tidak? Tulisan ini ditulis dalam bahasa Indonesia.