Review film “Mama Cake”

Di waktu senggang “artifisial” ini, saya sempatkan nonton film. Awalnya cuma merapikan file di laptop, ada sebuah potongan video yang sudah sejak lama saya simpan. Video itu adalah sebuah dialog antara dua orang gondrong yang membahas soal filosofi sholat. Kali pertama saya lihat video itu, terasa unik saja. Orang-orang yang penampilannya “begitu”, kok membahas tentang filosofi sholat. Maaf, saya memang kadang-kadang subyektif, masih saja menilai luarnya saja, padahal “don’t judge a book by its cover” adalah senjata saya.

Salah seorang gondrong tersebut menjelaskan bagaimana gerakan sholat melambangkan elemen alam: berdiri melambangkan api, rukuk seperti angin, sujud seperti air, duduk tahiyat seperti gunung, dan salam adalah cinta, serta cinta itu ada karena keikhlasan. Dari dulu saya tidak pernah mempertanyakan soal video ini. Tapi kali ini saya penasaran, sebenarnya siapa yang membuatnya, dan untuk apa. Nah, hanya dengan bekal Google, dan kata kunci “video sholat gerakan api air angin gunung”, akhirnya saya diantarkan ke sebuah trit di kaskus, yang salah satu post nya mengungkap asal usul video tersebut, yaitu merupakan potongan dari film Mama Cake.

Tanpa basa basi, langsung saya cari file bajakannya, barangkali masih ada yang merawat. Ngomong-ngomong akhir-akhir ini lebih sulit mencari film bajakan via Google. Memang dari banyak blog yang saya temukan, sebagian besar link unduhan yang disediakan sudah mati. Mungkin karena filmnya juga rilis lumayan lama sih, sekitar tahun 2012, dan yang pertama upload adalah ganool, yang saat ini sepertinya diblokir oleh internet positif.

Selain mencari link bajakannya, saya juga mencari review singkat film ini. Dilihat dari judulnya saya kurang yakin kalau cuplikan video tadi benar-benar dari film ini. Saya mengira film dengan judul tersebut, yang rilis sekitar tahun 2012, mungkin cuma film komedi “gaje” yang mungkin diselipi sedikit esek-esek. Di trailernya pun terlihat adegan seperti itu. Jadi semakin penasaran bro!
Dari sebuah review singkat, dikatakan film ini semacam “film dakwah dalam ambiguitas”, dikreasikan oleh sutradara Anggy Umbara yang “nyentrik unik” (atau apalah, itu istilah saya sendiri bukan dari review tadi) ada hubungannya dengan aliran metal yang eksentrik dengan salam satu jarinya (lagi-lagi istilah saya sendiri). “dakwah”, “ambigu”, dua kata kunci ini langsung mengarahkan saya kepada film semacam Kiamat Sudah Dekat, walaupun tentunya tidak sama apalagi kreatornya. Apalagi dikuatkan dengan aliran musik metal “Islami”, ambigu. Di review tadi disebutkan 2 judul film karya lain sutradara film Mama Cake ini, tapi saya belum pernah menonton satu pun dari keduanya.

Kesan Pertama

Sebelum menonton secara keseluruhan pada malam ini, sebelumnya saya play sebentar sesaat setelah selesai download. Beberapa menit awal, adegan berupa scene panjang tanpa jeda cut, dialog di dalam mobil yang melaju, membahas tentang film-film indonesia. Aktor utama adalah Omesh (Rakha), Boy William (Willy) dan Arie Dagienkz (Rio). Ketiga tokoh tersebut sangat berbeda perwatakannya. Rakha yang seumuran gue, yang kalem, penurut sama orang tua, dan seorang mahasiswa abadi, berteman akrab dengan Willy si don juan yang gaul abizz khas anak Jakarta, dan Rio si seniman nyentrik dengan emosi labil yang terobsesi untuk menyatu dengan alam dan seorang pujangga cinta.

Film ini berdurasi 2 jam lebih 23 menit. Lebih lama dari film “sejenis” pada umumnya. O iya saya masih belum bisa menentukan genre film ini dengan pasti, apakah komedi, roman, urban, filosofi, atau yang lain. Setelah menonton sampai pertengahan, yang jelas saya langsung berpikir “this is a great movie”, terkagum-kagum atas ide-ide yang disampaikan (definisi “ide” saya sendiri, jangan mengacu pada KBBI, tolong). Salah satunya adalah keyakinan Rakha tentang kebohongan teori evolusi Darwin yang menyatakan asal muasal manusia adalah kera. Ide-ide tak umum itu sempat membuat saya bertanya-tanya, apakah ketidak-umuman ini yang membuat film ini tidak terkenal? Ataukah hanya saya yang tidak mengetahui keberadaan film ini. Saya yakin yang terakhir ini lebih bisa diterima.

Sampai setengah film itu saya sangat menikmati setiap kejutan dan kekonyolan yang dihadirkan. Mulai dari Rio yang sangat gembira ketika melihat sapi, kambing dan rerumputan, sampai perjumpaan Rakha dengan Mawar di toko Mama Cake. O iya, jadi, inti cerita film ini adalah Rakha diminta ayahnya untuk membelikan brownies Mama Cake langsung dari toko pusat di Bandung. Yang minta dibelikan adalah nenek Rakha yang sedang opname di rumah sakit karena sakit jantung.

Dalam plotnya, diceritakan dalam usaha Rakha untuk membeli brownies dari Jakarta ke Bandung, ada berbagai macam konflik yang mengharuskannya bolak-balik ke toko Mama Cake untuk membeli brownies, sampai yang terakhir ia harus membeli di pagi hari ba’da subuh. Padahal sudah tentu jam segitu tokonya belum buka. Tapi untungnya, dan anehnya, seorang pelayan toko yang sangat ramah kepada Rakha, tidur di sebuah van di luar toko, dan akhir bersedia mencarikan sisa brownies setelah dibujuk oleh Willy. Dan setelah mendapatkan brownies terakhir itu, mereka langsung pulang ke Jakarta, dan sangat disayangkan, dalam perjalanan tersebut, sepupu Rakha memakan brownies tadi, dan kemudian dengan dermawannya memberikannya kepada pengamen cilik di lampu merah.

Saat konflik tersebut, Rakha benar-benar kecewa dan marah. Brownies terakhir yang dia usahakan berakhir di tangan pengamen. Tidak mungkin dia ke Bandung lagi untuk membelinya lagi, walaupun dia bersikukuh tentang ini dari permintaan “aneh” neneknya itu: amanah. Dia bisa saja membelinya di toko cabang Jakarta dan cukup bilang ke neneknya kalau dia membeli di Bandung. Tapi dia berusaha memegang amanah. Dan akhirnya dia teringat Mawar (Dinda Kanya Dewi) yang juga membeli brownies di Mama Cake Bandung dan “kebetulan” dia juga orang Jakarta. Saat Rakha ingin pulang ke Jakarta menggunakan kereta api, ia juga “kebetulan” bertemu kembali dengan Mawar, dan di situ dia minta nomor ponsel Mawar dan berjanji akan missed call, tapi belum bisa karena saat ia berusaha menelepon, saat itu Mawar masih menerima panggilan. Tapi kemudian ada konflik tak terduga, dia dikeroyok oleh preman, dan ponselnya direbut oleh para preman tersebut. Saat Rakha ingin menelepon Mawar, dia lupa nomornya. Maka dia berusaha mengingat nomornya dan menelepon nomor-nomor tersebut yang bisa ditebak, banyak salah sambung. Tapi akhirnya ia justru ditelepon oleh Mawar yang menerima missed call dari ponsel Willy. Langsung saja Rakha meminta alamat rumah Mawar, dan ia meminta brownies yang masih dipunyai Mawar yang ternyata itu adalah milik Rakha yang salah diambil Mawar ketika di stasiun.

Dalam film ini ada seorang tokoh yang kurang jelas perannya. Tokoh inilah yang ada di potongan video tadi, yang berdialog tentang filosofi sholat dengan Rio. Pada awal-awal plot, tokoh ini, yang belum sempat memperkenalkan diri, dia ditabrak mobil Rakha dkk, tapi anehnya tidak luka sama sekali, masih sehat wal afiat. Di dalam mobil saat nebeng ke Bandung, dia ngobrol tentang “you are what you eat”, sebuah obrolan “berat”. Dan kadang-kadang dia muncul secara tiba-tiba, seperti saat di rumah sakit dan berpapasan dengan Rakha.

Keanehan

Ada beberapa keanehan dari film ini, selain tokoh tanpa nama tadi. Pertama, secara visual, gambar rumput dan daun yang hijau, entah kenapa terlihat kebiruan. Lalu, entah kenapa mobil Rakha tiba-tiba hilang saat mencari ponsel Wily yang dibuang Rakha dari mobil. Kemudian, Mawar tidak sempat menjelaskan kenapa ia juga membeli brownies di Mama Cake Bandung. Lalu, ada lagi, pelayan toko meminta foto bareng Rakha dan Mawar. Dan ternyata foto mereka diberikan oleh pelayan toko kepada Ibu Mama Cake, scene tampil pada credit title. Dan yang aneh, Ibu Mama Cake itu terlihat sedih saat melihat foto Rakha dan Mawar. Dan siapakah dia sebenarnya? Apakah mungkin film ini direncanakan sequelnya mungkin? Ada lagi, scene kissing disensor dengan emotikon. Bukankah lebih baik jika tidak ada sekalian. Dan yang terakhir, nenek Rakha ternyata yang sudah meninggal, tiba-tiba menghampiri Rakha yang duduk di rumah sakit, dan memakan brownies yang dibawakannya. O ya, satu lagi, Willy itu suka mengumpat dalam bahasa Inggris, kalau tayang di TV, apakah disensor ya?

Sebagian scene-nya memang ambigu. Tapi saya suka scene-scene yang menghadirkan gagasan “fresh”, dan juga saat Rakha makan bareng Mawar di stasiun, Mawar bisa notice kalau Rakha kekurangan topik pembicaraan, dan bagaimana kemudian Rakha mau menceritakan petualangannya ke Bandung tersebut.
Yah, sepertinya saya sudah menulis cukup panjang selama 2 jam ini, sambil menunggu kuota malam… hehe… kebetulan akhir-akhir ini saya punya banyak inspirasi bahan tulisan. Dengan menonton film ini, saya seperti mendapat sebuah refreshing.

Mungkin perlu mencoba OpenSUSE

Setidaknya ada 3 atau 4 perusahaan pengembang sistem operasi berbasis Linux yang saya ketahui: Canonical, Red Hat, Novell, Mandriva. Saya sudah pernah atau sedang menggunakan sistem operasi buatan tiga vendor dari empat itu. Tinggal satu yang belum pernah saya cicip, yaitu OpenSUSE besutan Novell dan sekarang dipisah menjadi SUSE Linux GmbH ^1 [^2]

SUSE merupakan singkatan dari System und Software Entwicklung, dalam bahasa Jerman. Menurut sejarahnya, perusahaan ini didirikan sejak 1992, berpindah kepemilikan beberapa kali, dan yang terakhir ini dimiliki Micro Focus International. Walaupun perusahaannya sudah hampir seperempat abad berdiri, tetapi OpenSUSE sendiri dirilis sejak 2005.

Kenapa saya merasa perlu menjajal OpenSUSE adalah karena saya pernah belajar bahasa Jerman. Ada rasa kedekatan dengan Jerman. Selain itu, desktop utama yang diusung OpenSUSE adalah KDE. Dan sebelumnya saya sudah menambatkan diri ke KDE, yang mana headquarter pengembangnya ada di Jerman, yaitu KDE e.V. Dan Jerman juga menjadi markas The Document Foundation yang memelihara LibreOffice dan format dokumen terbuka.


[^2]: GmbH: Gesellschaft mit beschränkter Haftung