Mengingat kembali kenapa saya lebih suka KDE

Awalnya kenal Linux, saya menggunakan Ubuntu. Waktu itu Ubuntu masih membawa desktop environment Gnome 2 yang masih meninggalkan kesan untuk saya. Dari tampilannya yang sederhana dan enteng, sampai kemudahannya untuk dikustomisasi menjadi tampilan yang benar-benar lain: menjadi mirip windows atau bahkan OSX. Hardware dengan spec rendah pun masih mampu menjalankannya dengan lancar. Justru KDE lebih “berat”, yang mungkin karena pengaruh efek desktopnya. Kesan “KDE lebih berat” saya dapatkan pada Live CD Kubuntu 8.10, yang diberikan Canonical dari program ShipIt. Yang mana proses loading Live CD lebih lama daripada Ubuntu Gnome.

Setelah bisa upgrade hardware, awalnya memakai Ubuntu Precise masih lancar saja. Tetapi lama kelamaan, karena saya suka update package yang termasuk kernel, VGA tidak mampu menangani Unity dengan baik, apalagi pada versi 14.04 LTS. Kernel versi lebih rendah dari 3.4 masih didukung oleh driver VGA buatan komunitas. Sedangkan kernel versi lebih baru tidak kompatibel lagi dengan driver open source tersebut. Alhasil, saya diberikan dua pilihan: tetap pada kernel lama dan Ubuntu versi Precise, atau menuruti hawa nafsu upgrade dengan kernel terbaru. Akhirnya saya pilih yang kedua, yang saat ini kernel sudah sampai versi 3.16 pada Trusty.

Jika disimpulkan, kenapa saya stuck pada KDE saat ini adalah karena hardware. Namun lebih dari itu, ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan.

  1. Gnome 2 sudah tidak didukung oleh Ubuntu setelah digantikan dengan Unity. Ini berarti saya sudah tidak bisa dengan bebas mudah mengubah tampilan desktop menjadi seperti OSX, misalnya. Pada waktu itu ada package gnome-globalmenu yang bisa menampilkan menu pada taskbar atas. Tetapi sekarang (waktu itu) package tersebut menjadi tidak berfungsi seperti sebelumnya. Mungkin saja fungsi tersebut sudah dibenamkan pada Unity, yang juga punya semacam global-menu di taskbar, dan pada Ubuntu terbaru saat ini menu bar dipindahkan pada title bar jendela.
  2. KDE ternyata mempunyai integrasi kalender Hijriyah. Pada Gnome 2 tidak ada integrasi semacam itu. Jika ingin menampilkan tanggal hijriyah pada desktop, perlu menginstal aplikasi lain, tapi tidak terintegrasi pada aplikasi kalender. Hanya berupa ikon pada taskbar yang menampilkan tanggal hijriyah saat ini. Nah, saat ini pada Gnome 3, integrasi kalender hijri sudah bisa diaplikasikan. Saya pernah melihat screenshot yang menampilkan kalender hijriyah pada applet kalender Gnome 3.
  3. KDE punya ‘ekosistem’. Banyak sekali aplikasi yang memang dirancang untuk berjalan pada lingkungan KDE. Biasanya mempunyai nama dengan awalan huruf K. ‘Ekosistem’ inilah yang dibawa oleh KDE Software Compilation (SC).
  4. KDE menggunakan library Qt. Kebetulan saya mempelajari pemrograman dengan Qt Framework. Dan KDE juga dibangun atas library Qt tersebut. Jadi, aplikasi yang saya kembangkan bisa lebih membaur dengan style KDE. Dan barangkali saya bisa berkontribusi dalam pengembangan KDE.
  5. Terinspirasi oleh komunitas. Redaktur utama FullCircle Magazine –majalah elektronik yang biasa saya baca– memakai KDE, bisa dilihat pada screenshot yang biasa ditampilkan dalam majalah. Saudara Ade Malsasa Akbar, penggiat Open Source Indonesia juga konsisten memakai KDE. Dan… bahkan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, memakai KDE! Walaupun cuma dalam scene film Social Network.

E-book pertama yang dibeli

Tahun ini ada beberapa hal baru yang saya dapatkan. Salah satunya bisa membeli e-book. Buku elektronik pertama yang bisa saya beli ini adalah Menyelami Framework Laravel. Pada #harbolnas pada tanggal 12 Desember kemarin, mas Rahmat Awaludin, sang penulis buku memberikan diskon 50% atas semua buku Laravelnya. Nah, kebetulan sekali, sudah lama saya janji akan membelinya tapi belum kesampaian. Semoga bisa bermanfaat buat saya untuk ke depannya.

ebook laravel

Sudahkah anda membayar kepada facebook?

Sebagian dari kita pasti pernah atau sudah menggunakan Facebook. Kita menganggap FB itu gratis. Padahal sebenarnya tidak (sepenuhnya) gratis, lebih-lebih setelah mereka menjadi perusahaan terbuka. Bayangkan, pengguna FB sudah milyaran. Server mereka sudah sedemikian besar dan banyak tentunya. Bagaimana mungkin mereka tetap bertahan atau berkembang jika benar-benar gratis?

“Tapi kan kita tidak membayar serupiah pun?”, mungkin anda bertanya. Jawabannya, ya karena mereka tidak mau rupiah, tetapi dolar. 😀

Facebook yang sekarang, bukan lagi jejaring sosial, melainkan jejaring iklan. 1 Dan kita bukanlah user mereka, tetapi kita adalah produk mereka yang bisa dengan sesuka hati mereka tawarkan kepada pengiklan dalam bentuk angka (jumlah). Kita menjadi obyek sasaran iklan yang mana iklan-iklan tersebut merupakan sumber pendapatan jutaan dolar mereka.

Pos ini tidak bermaksud untuk menghasut pembaca bahwa iklan di FB itu buruk. Jeleknya dari iklan mereka adalah bahwa FB mengumpulkan informasi detail tentang kesukaan atau minat kita. Kemudian data tersebut digunakan untuk memilih iklan yang sesuai dengan pribadi kita. Yang terakhir ini sebenarnya bagus, karena kita hanya melihat iklan yang mungkin masih relevan dengan kita.

Jadi, sudah paham kan bagaimana kita membayar (budi) kepada facebook? Ya, dengan terus aktif di facebook, sering login, dan sering mengeklik iklan mereka.


  1. <https://plus.google.com/+RianYuliantoW/posts/PsvmAKVv84q>