Humor yang aman itu menertawakan diri sendiri

Ya, seharusnya begitu. Dengan menertawakan diri sendiri, tak ada yang terluka. Tapi di sisi lain, tentunya ada saja yang gagal paham hingga baper, mengira kita menertawakan orang yang merasa. Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi. Sudah, kita harus berhenti bergurau. Wahai dunia, maafkan aku yang terlalu sering menertawakanmu. Kini jika kau mau membalasku dengan menertawakanku, aku rela kau tertawakan.

Humor adalah menertawakan apa yang tidak kau miliki, ketika kau harus memilikinya

Langston Hughes

Satu dalih buatku yang sering menertawakan apa yang tidak kumiliki. Seperti “jomblo”, yang tidak memiliki pasangan, padahal seharusnya memiliki.

Perlu dibedakan antara menertawakan diri sendiri dengan merendahkan diri sendiri. Jika kita melucu dengan membawa-bawa kesalahan masa lalu, itu bukan yang dimaksudkan. Itu hanya membuka aib masa lalu yang seharusnya sudah terkubur oleh waktu. Orang yang mendengarnya justru menjadi kurang respek.

Jomblo itu idealisme

Nah kan? Karena hanya menganggapnya sarkasme, saya tidak mementingkan makna jomblo dan idealisme! Alhasil, gagal paham, tapi terus saja berkoar-koar, kosong tak berbobot.

Nemu tulisan di http://derfafu.blogspot.co.id/2015/09/jomblo-itu-idealisme.html tentang jomblo itu idealisme. Ternyata saya belum memahami arti dari jomblo yang sebenarnya, karena seperti yang disampaikan tulisan tersebut, kata jomblo tidak terdapat dalam KBBI. (Yang ada ‘jomlo’). “Mengerti, tapi tidak memahami.”

Menurut tulisan tersebut, makna jomblo lebih menyempit daripada yang selama ini saya yakini. Menurutnya, jomblo berkaitan dengan pacaran. Jadi, status jomblo terjadi karena tidak pacaran. Sedangkan menurut saya, tidak hanya pacaran, status jomblo bisa terjadi karena belum menikah. Jadi, perbedaannya adalah pacaran dan menikah. Cukup jelas.

Perbedaan itu, jika kita asumsikan bahwa sebagian orang menganut paham pacaran, dan sebagian lainnya menganut paham nikah, maka sudah jelas idealisme yang dianut juga. Berarti sudah jelas di mana idealisme saya. Idealisme yang hampir saja runtuh karena sebuah kebodohan. Tetapi Tuhan masih menyelamatkanku.

Jangan menyerah untuk mengejar mimpimu

Rehat sejenak dari kegalauan karena cinta 😂😆, kali ini saya akan mengulas film lagi. Barusan nonton premiers Zootopia di Fox Movies. Sebuah film animasi disney lainnya yang berkualitas. Sudah tayang di bioskop di awal tahun 2016 kemarin. Mendapatkan banyak penghargaan dan masuk dalam banyak nominasi.

Zootopia bercerita tentang Judy Hopps, gadis desa yang bercita-cita menjadi polisi di kota besar Zootopia. Dengan perjuangan yang keras, akhirnya Judy bisa meraih cita-citanya tersebut. Tetapi ceritanya tidak hanya sampai di situ. Itu baru awalnya saja. Continue reading “Jangan menyerah untuk mengejar mimpimu”

MITM dan penikung

MITM, sebuah istilah “keren” yang tersemat pada sebagian hacker. Bagi saya itu keren, karena saya hanya bisa terkagum-kagum oleh kemampuan mereka.

Lalu, apa itu penikung? Hmm, entahlah, itu satu kata asing yang bahkan di KBBI pun tidak akan kita temukan –setidaknya saat tulisan ini diterbitkan. http://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Penikung

Saya pakai kata itu seperti biasa, sebagai kritik sinis atau sekadar sarkas yang saya tertawakan sendiri. 😨 sama halnya seperti kata-kata baper, jomblo, jones, kepo, oleng, atau apalah yang kekinian.

Kembali ke mitm, ia adalah singkatan dari “man in the middle” attack. Yaitu sebuah teknik hacking yang dilakukan “di tengah-tengah” dua pihak yang saling menjalin cinta, eh komunikasi. Sang attacker menyadap jalinan komunikasi tersebut sedemikian rupa sehingga kedua pihak tak ada yang mengetahui bahwa mereka disadap. Jelas beda dengan penikung ya. 😀

Saya bukan hacker yang anda maksud, jadi saya tidak bisa menjelaskannya secara terang dan rinci. Dan jelas sebenarnya antara mitm dan penikung tak ada hubungan apa-apa. Mereka sama-sama jomblo. 🙊

Antara khayalan, memori dan deja vu

Perasaan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gambaran yang muncul di benakku sangat acak dan menggugah jiwa. Suasana pegunungan, pepohonan, semilir angin yang berhembus, air yang mengalir. Entah apa itu tepatnya. Tetapi rasanya luar biasa. Apakah itu bisa disingkat dengan satu kata: Cinta? Baper? Aku pun masih mengevaluasinya.

P.S. Ini adalah catatan akhir tahun.

Manusia akan terus belajar

Belajar adalah proses yang berkelanjutan yang akan kita jalani hingga akhir hayat. Setiap detik, setiap saat yang bergulir secara konstan, begitu pula kehidupan yang dinamis ini memaksa kita untuk terus belajar dan belajar.

Saya merasa sudah banyak sekali mempelajari hal-hal. Tetapi ternyata lebih banyak lagi yang masih harus saya pelajari. Awalnya terasa malas untuk memulai dari nol lagi, tetapi setelah menyadari bahwa belajar adalah proses tanpa henti, akhirnya tak ada lagi kata malas.

Manusia mempelajari berbagai hal dalam rangka menuju pribadi yang lebih baik. Yang mana nantinya akan berguna tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi kemashlahatan bersama.

Manusia hanya mampu melihat dhohirnya

Kita punya dua mata, tapi hanya bisa fokus pada satu objek. Kita juga punya mata hati, tapi tak banyak dari kita yang bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Hanya yang hatinya bersihlah yang bisa.

Sebenarnya hal itu sudah saya sadari sejak lama. Saya diam saja karena gak ada yang tanya. Hehe… siapa pula yang mau nanya.

Artinya bahwa kita, manusia (ya, saya juga manusia ngomong-ngomong), ada keterbatasan. Kita hanya bisa menilai segala sesuatu dari yang tampak, tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik semua itu. Seperti misalnya ramai tentang berita hoax beberapa waktu lalu.

Tetapi selain karena keterbatasan secara fitrah, ada faktor lain dari kita sendiri yang menghalangi kita untuk memahami. Yaitu kebencian dan keras hati.

Seberapapun nyatanya fakta yang terjadi, jika hati kita dipenuhi kebencian, kebenaran apapun yang sampai pada kita tak akan menggoyahkan kekerasan hati kita untuk menolak mempercayainya. Pernah merasakannya?

Selain itu, ada pula kasus yang mana kita enggan untuk menerima klarifikasi atau pencerahan atas apa yang terjadi, dikarenakan kekerasan hati tadi. Kita tetap kukuh pada argumen pribadi kita walaupun kita sadar bahwa terkadang itu hanyalah nafsu berbalut egoisme.

Salam ikhlas! Mari benahi hati, sucikan fikiran. Demi kemashlahatan bersama.

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar “jav”?

“jav” sebuah kata asing bagi kita tentunya. Tapi bagi sebagian orang dan sebagian orang lain, dia tidak begitu asing. Saya sebut dua “sebagian”, karena memang kata ini mempunyai dua makna, yang satu berkonotasi negatif, sedangkan lainnya netral. (saya di golongan netral lho)

Golongan pertama

Golongan ini adalah golongan minoritas di masyarakat kita. Biasanya terdiri dari kelompok usia remaja. Ayo jujur saja pada diri pembaca yang [maaf] “piktor” pasti langsung mengarah pada video-video itu. 😀 No offense yah. Saya sih cukup tahu saja.

Golongan kedua

Golongan kedua ini jumlahnya (saya yakin) lebih sedikit daripada golongan pertama. Golongan ini lebih prestisius. Mereka peduli pada kelestarian sebuah budaya. Jadi, “jav” yang dimaksud bukan berkaitan dengan video, tetapi ini adalah kode bahasa untuk bahasa Jawa (Javanese) yang telah ditetapkan oleh ISO. Golongan ini mengakui keberadaan bahasa Jawa di kancah internasional, walaupun sebagian besar dari mereka, saya yakin bukan orang Jawa. Spesifikasinya bisa dibaca di laman wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Javanese_language atau di http://www-01.sil.org/iso639-3/documentation.asp?id=jav

Jadi, anda termasuk golongan mana? 😀