Thunderbird 3.8.4 Hang di Kubuntu 14.04

Posting ini lebih tepat dijadikan laporan bug ke pengembang, tapi saya tidak tahu cara melaporkannya. Biasanya harus menyertakan stack trace atau semacamnya. Tetapi saya tidak mendapatkannya walaupun Thunderbird dijalankan via Terminal/Konsole.

Entah kenapa tiba-tiba Thunderbird yang biasa saya gunakan untuk membaca email pada semua akun, hang setelah beberapa saat di-run. Penggunaan CPU melonjak ke 100% pada salah satu core. Saya sudah berusaha googling (lebih tepatnya duckduckgo-ing) dan menemukan satu artikel ^1. Dijelaskan di situ caranya dengan menggunakan Config Editor pada pengaturan Thunderbird. Masalahnya tiap kali meluncurkannya, dia hang. Bagaimana mungkin saya bisa mengubah pengaturan tersebut? Ternyata ada caranya. Menurut artikel lain ^2, setting Thunderbird ada di file pref.js di dalam direktori profile. Di Linux ada dalam direktori ~/.thunderbird/xxxxxxx.default.

Walaupun sudah berhasil mengubah setting tanpa membuka program Thunderbird seperti dijelaskan pada artikel ^1, permasalahan belum terpecahkan. Penggunaan CPU tetap tinggi. Dan hang masih terjadi. Hang ini terjadi saat login ke akun SMTP. Awalnya saya pikir mungkin penyebabnya adalah kegagalan koneksi ke server Outlook yang mana Thunderbird terhenti saat mencoba memeriksa email baru dalam inboxnya. Server email Outlook lumayan rewel dengan alamat IP saat kita login. Karena saya menggunakan internet Tri yang IP-nya berubah-ubah dan biasanya dianggap sebagai jaringan yang kurang aman, mungkin saja IP saya diblokir atau dihalangi untuk login. Namun, nyatanya setelah saya utak-atik file pref.js tadi untuk menonaktifkan akun Outlook ini, hang tetap terjadi. Entahlah, semoga update segera disediakan oleh Ubuntu. Dan semoga bukan hardware-lah penyebabnya.

Selamat Tinggal

Selamat tinggal

Hal yang sudah lama tertunda ini akhirnya harus saya lepaskan. Pesan dari guru saya, jangan ngoyo, bisa-bisa jadi pikun. Saya tidak ingin ngoyo untuk mempertahankan keinginan itu: membuat ebook tentang instalasi program di Ubuntu secara offline. Dengan perkembangan pengguna Ubuntu sekarang ini, saya merasa yakin untuk menghapus catatan yang sudah menghiasi desktop KDE saya itu sejak lama. Sayounara

Posting ke-100 di Pandalon

Pos ke-100

Akhirnya target sudah tercapai. Ternyata saya sudah menulis 100 judul posting di Pandalon. Tapi. dari semuanya, saya perkirakan hanya kurang dari separuhnya yang (mungkin) bisa dimanfaatkan oleh pembaca. Selebihnya, ego belaka. Semoga saya bisa menulis untuk waktu berikutnya.

Saya Ingin Jadi Programmer

Menyelesaikan suatu permasalahan yang sangat sulit dengan cara yang sangat sederhana dan terkesan unik adalah kemampuan individu yang sudah menguasai logika dan algoritma sesuai bidang tersebut…

Saya awali tulisan kali ini dengan sebuah kutipan dari sebuah posting seseorang di blognya 1. Saya mendapatkannya dari forum Ubuntu Indonesia di FB.

Jadi, ada sebuah pertanyaan tentang pentingnya algoritma dan matematika bagi programmer. Pertanyaan semacam ini sudah pernah saya jumpai sebelumnya. Kalau dilihat dari jawaban-jawabannya, hampir semuanya setuju kalau programmer harus menguasai algoritma dan matematika.

Lalu, sebenarnya apa sih algoritma? Saya juga sering kehilangan makna algoritma ketika teman saya yang kuliah elektronika membahas kata ini. Padahal menurut sumber teratas dari google, 2

Algoritma adalah urutan langkah-langkah logis penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis dan logis.

Cuma itukah? Tampaknya kutipan tersebut sudah menggambarkan dengan jelas apa itu algoritma.  Dan menurut tulisan yang memuatnya, algoritma adalah bagian dari program komputer. Maka benarlah jika dikatakan bahwa programmer harus menguasai algoritma.

Ngomong-ngomong, saya sudah sering bercerita kalau saya sedang belajar pemrograman (otodidak). Dan itu sudah sejak lama. Tapi saya merasa belum ada apa-apanya sampai saat ini. Apalagi, kalau memperhatikan kutipan yang pertama, bahwa ahli algoritma bisa memecahkan masalah yang rumit dengan cara yang sederhana.

Saya mau sedikit bercerita, yang sebenarnya sudah saya simpan sejak lama. Kebetulan saya pernah ikut tes interview sebuah perusahaan startup, jadi junior programmer Python. Salah satu tes keahliannya adalah memecahkan soal yang diberikan, yaitu mencari bilangan terkecil dan terbesar dari suatu matriks, dengan bahasa pemrograman apapun, dalam baris kode dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Wah, luar biasa, padahal saya baru bisa echo atau array_merge dalam PHP! Jadi, saya jawab soal tersebut dengan kemampuan seadanya dan dalam kode yang mbleber serta rampung terlama. Dan kalau benar-benar dijadikan file PHP, pasti cuma menghasilkan error. Pengalaman yang sangat berharga. Walaupun saya tidak lolos tes tersebut. Tapi waktu itu saya justru semakin ingin mempelajari Python. Sayangnya tidak sampai lama belajar, sudah berhenti, atau ditunda dulu. Inginnya fokus satu bahasa dulu, entah PHP atau Qt C++. Dan sampai sekarang saya masih menimbang-nimbang mana yang harus didahulukan.

Semoga saja keinginan saya terwujud, entah dalam waktu dekat atau lama.