Tentang kutipan atau quote

Hari ini, saya membahas tentang quote atau kutipan. Sejak beberapa waktu belakangan, saya jadi hobi mengumpulkan quotes. Dari siapa saja, saya like, termasuk pernah saya like quote dari “orang bodoh”. Quotenya seperti ini: “was andere Menschen von dir denken ist nicht dein Problem“. Iya, itu bahasa Jerman. 😀 saya dapat dari sebuah FB page bahasa Jerman.

Suatu hari, quote itu (atau zitat dalam bahasa Jerman) dimunculkan lagi. Saya langsung like, dan tanpa sengaja saya melihat sebuah komen yang tampaknya tidak setuju. Komentar itu mengatakan, “tolong jangan quote dari orang itu, dia bodoh”, kira-kita begitu. Ternyata ada beberapa komentar yang senada dengan itu di bawahnya.

Kalau diterjemahkan, kutipan itu berarti “apa yang dipikirkan orang lain atas dirimu, itu bukan masalahmu”. Sepintas terlihat biasa saja, dan menurut saya ada benarnya, waktu itu. Apalagi saya sedang mencari konsep diri di dalam masyarakat. 🙊 minda saya langsung mengiyakan tanpa protes.

Namun setelah saya membaca komentar tadi, hati nurani saya tergugah. Memang yang dipikirkan orang lain itu bukan masalah kita, lebih ke masalah mereka. Tetapi bukankah kita yang menyebabkan masalah tersebut? 😀

Manusia memang berbeda-beda, kita sudah mafhum. Ada yang suka menilai orang lain, ada yang cuek, dlsb. Jika orang lain masih mau memikirkan kita, artinya dia begitu perhatian kepada kita. Tetapi masalahnya, yang dipikirkan mereka itu apa? Positif, ataukah negatif itu yang tidak kita ketahui. Dan jika hanya mereka pendam dan justru jika dijadikan bahan obrolan dengan orang lain, itu sudah bukan masalah mereka saja. Itu sudah jadi masalah untuk kita juga.

Yah pembahasan ini sudah sedikit melenceng dari bahasan pokok. Jadi, intinya sejak saya salah memahami kutipan itu, saya jadi lebih selektif dengan pemilik kutipan. Kutipan tadi itu adalah kutipan seorang komedian ternyata. Itulah maksudnya kenapa ia dibilang bodoh, dan maksud dishare di FB page itu untuk sekedar humor, yang saya anggap serius.

Edit 5/02: saya tambahkan gambar quote, ternyata sang penggagas kutipan adalah seorang penulis terkenal, Paulo Coelho, bukan komedian.

Hakikat kutipan

Salah satu semangat saya menyukai kutipan adalah dari sebuah hadits1 yang artinya kira-kira:

“Kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, maka dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya”

Kebanyakan kutipan mengandung hikmah, kecuali kutipan “bodoh” tadi ya. Jadi, jika sekiranya ia bermanfaat, maka kita bisa menjadikannya ilmu. Karena kutipan-kutipan itu diperoleh bukan dari orang-orang sembarangan. Mereka biasanya orang-orang terkenal atau orang-orang sukses yang mana kuipan mereka terinspirasi dari pengalaman hidup mereka.

Kutipan gambar mim

Saat ini ada fenomena humor populer melalui gambar, atau disebut meme (dibaca mim). Gambar-gambar itu biasanya sama, hanya beda kata-kata yang lucu. Sebagian gambar-gambar itu, karena ingin terlihat lucu, ada yang mengatasnamakan kutipan oleh orang ternama. Ini sangat disayangkan sebenarnya. Saya anggap sebagai sebuah kedustaan. Coba lihat contoh berikut2:

Menurut pembuat gambar, itu hanya plesetan. Tetapi rasanya kurang etis jika mencatut nama tokoh asli. Bagi orang yang tidak paham, bisa saja itu akan dianggap benar-benar ucapan sang tokoh.

Semakin membuat diri ini waspada terhadap kemungkinan kutipan abal-abal.

^1: hadits tersebut sebenarnya ghariib http://umar-arrahimy.blogspot.co.id/2015/03/takhrij-hadits-hikmah-milik-orang.html

^2: http://www.lucu.me/2016/05/20-meme-plesetan-quotes-tokoh-tentang.html

Ulasan Film Kimi no Na wa

Seperti awal tahun sebelumnya, saya lebih memilih di rumah saja daripada hujan-hujanan di luar. You know what I mean. 😀

Nah, seperti tahun lalu juga, saya mau mengulas film Kimi no Na wa, sebuah film anime Jepang yang sangat populer saat ini. Film ini tayang di jaringan bioskop CGV Blitz. Tapi saya tidak nonton sih. 😀 Bioskop CGV Blitz terdekat ada di Jogja bro! Gak sempat ke sana (lagi). Kemarin pas ke sana tanggal 4 Desember, belum tayang. Soalnya Indonesia dapat jatah tayang tanggal 7 Desember.

Promo Kimi no Na wa

Daripada penasaran, baca sajalah ulasan filmnya. Sudah ada di Wikipedia! Ini cuplikannya:

Mitsuha Miyamizu, seorang siswi sekolah menengah atas yang tinggal di desa Itomori, mulai bosan dengan kehidupannya di pedesaan tempat dia lahir dan berharap dapat terlahir menjadi pemuda tampan yang hidup di Tokyo pada kehidupan selanjutnya. Kemudian, Taki Tachibana, seorang siswa sekolah menengah atas yang tinggal di Tokyo, terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya adalah Mitsuha, yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam tubuh Taki.

Selengkapnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Kimi_no_Na_wa.

Film ini pertama kali diputar di konvensi Anime Expo 2016 di Los Angeles, California pada 3 Juli 2016, dan kemudian dirilis di bioskop-bioskop di Jepang pada 26 Agustus 2016. Film ini dijadwalkan untuk dirilis di 92 negara, termasuk di Indonesia. Untuk dapat ikut serta dalam Oscar, film ini dirilis selama sepekan (2-8 Desember 2016) di Los Angeles. Pada tahun 2017, film ini akan mendapatkan rilis yang lebih luas di berbagai bioskop di negara bagian Amerika Serikat yang lainnya.[^1]

Ulasan lainnya bisa dibaca di:

  1. https://istorialina.wordpress.com/2016/12/30/movie-review-kimi-no-na-wa-your-name/
  2. https://myanimelist.net/anime/32281/Kimi_no_Na_wa/reviews
  3. https://www.rottentomatoes.com/m/your_name_2016/
  4. http://www.imdb.com/title/tt5311514/

Melihat nilai review yang bagus, tak heran jika film ini sangat populer. Tetapi yang unik, sang sutradara malah berharap agar para fans untuk tidak menontonnya lagi[^2]. 😮

[^1] Wikipedia
[^2] https://japanesestation.com/makoto-shinkai-minta-fans-berhenti-menonton-kimi-no-na-wa/

Review film “Mama Cake”

Di waktu senggang “artifisial” ini, saya sempatkan nonton film. Awalnya cuma merapikan file di laptop, ada sebuah potongan video yang sudah sejak lama saya simpan. Video itu adalah sebuah dialog antara dua orang gondrong yang membahas soal filosofi sholat. Kali pertama saya lihat video itu, terasa unik saja. Orang-orang yang penampilannya “begitu”, kok membahas tentang filosofi sholat. Maaf, saya memang kadang-kadang subyektif, masih saja menilai luarnya saja, padahal “don’t judge a book by its cover” adalah senjata saya.

Salah seorang gondrong tersebut menjelaskan bagaimana gerakan sholat melambangkan elemen alam: berdiri melambangkan api, rukuk seperti angin, sujud seperti air, duduk tahiyat seperti gunung, dan salam adalah cinta, serta cinta itu ada karena keikhlasan. Dari dulu saya tidak pernah mempertanyakan soal video ini. Tapi kali ini saya penasaran, sebenarnya siapa yang membuatnya, dan untuk apa. Nah, hanya dengan bekal Google, dan kata kunci “video sholat gerakan api air angin gunung”, akhirnya saya diantarkan ke sebuah trit di kaskus, yang salah satu post nya mengungkap asal usul video tersebut, yaitu merupakan potongan dari film Mama Cake.

Tanpa basa basi, langsung saya cari file bajakannya, barangkali masih ada yang merawat. Ngomong-ngomong akhir-akhir ini lebih sulit mencari film bajakan via Google. Memang dari banyak blog yang saya temukan, sebagian besar link unduhan yang disediakan sudah mati. Mungkin karena filmnya juga rilis lumayan lama sih, sekitar tahun 2012, dan yang pertama upload adalah ganool, yang saat ini sepertinya diblokir oleh internet positif.

Selain mencari link bajakannya, saya juga mencari review singkat film ini. Dilihat dari judulnya saya kurang yakin kalau cuplikan video tadi benar-benar dari film ini. Saya mengira film dengan judul tersebut, yang rilis sekitar tahun 2012, mungkin cuma film komedi “gaje” yang mungkin diselipi sedikit esek-esek. Di trailernya pun terlihat adegan seperti itu. Jadi semakin penasaran bro!
Dari sebuah review singkat, dikatakan film ini semacam “film dakwah dalam ambiguitas”, dikreasikan oleh sutradara Anggy Umbara yang “nyentrik unik” (atau apalah, itu istilah saya sendiri bukan dari review tadi) ada hubungannya dengan aliran metal yang eksentrik dengan salam satu jarinya (lagi-lagi istilah saya sendiri). “dakwah”, “ambigu”, dua kata kunci ini langsung mengarahkan saya kepada film semacam Kiamat Sudah Dekat, walaupun tentunya tidak sama apalagi kreatornya. Apalagi dikuatkan dengan aliran musik metal “Islami”, ambigu. Di review tadi disebutkan 2 judul film karya lain sutradara film Mama Cake ini, tapi saya belum pernah menonton satu pun dari keduanya.

Kesan Pertama

Sebelum menonton secara keseluruhan pada malam ini, sebelumnya saya play sebentar sesaat setelah selesai download. Beberapa menit awal, adegan berupa scene panjang tanpa jeda cut, dialog di dalam mobil yang melaju, membahas tentang film-film indonesia. Aktor utama adalah Omesh (Rakha), Boy William (Willy) dan Arie Dagienkz (Rio). Ketiga tokoh tersebut sangat berbeda perwatakannya. Rakha yang seumuran gue, yang kalem, penurut sama orang tua, dan seorang mahasiswa abadi, berteman akrab dengan Willy si don juan yang gaul abizz khas anak Jakarta, dan Rio si seniman nyentrik dengan emosi labil yang terobsesi untuk menyatu dengan alam dan seorang pujangga cinta.

Film ini berdurasi 2 jam lebih 23 menit. Lebih lama dari film “sejenis” pada umumnya. O iya saya masih belum bisa menentukan genre film ini dengan pasti, apakah komedi, roman, urban, filosofi, atau yang lain. Setelah menonton sampai pertengahan, yang jelas saya langsung berpikir “this is a great movie”, terkagum-kagum atas ide-ide yang disampaikan (definisi “ide” saya sendiri, jangan mengacu pada KBBI, tolong). Salah satunya adalah keyakinan Rakha tentang kebohongan teori evolusi Darwin yang menyatakan asal muasal manusia adalah kera. Ide-ide tak umum itu sempat membuat saya bertanya-tanya, apakah ketidak-umuman ini yang membuat film ini tidak terkenal? Ataukah hanya saya yang tidak mengetahui keberadaan film ini. Saya yakin yang terakhir ini lebih bisa diterima.

Sampai setengah film itu saya sangat menikmati setiap kejutan dan kekonyolan yang dihadirkan. Mulai dari Rio yang sangat gembira ketika melihat sapi, kambing dan rerumputan, sampai perjumpaan Rakha dengan Mawar di toko Mama Cake. O iya, jadi, inti cerita film ini adalah Rakha diminta ayahnya untuk membelikan brownies Mama Cake langsung dari toko pusat di Bandung. Yang minta dibelikan adalah nenek Rakha yang sedang opname di rumah sakit karena sakit jantung.

Dalam plotnya, diceritakan dalam usaha Rakha untuk membeli brownies dari Jakarta ke Bandung, ada berbagai macam konflik yang mengharuskannya bolak-balik ke toko Mama Cake untuk membeli brownies, sampai yang terakhir ia harus membeli di pagi hari ba’da subuh. Padahal sudah tentu jam segitu tokonya belum buka. Tapi untungnya, dan anehnya, seorang pelayan toko yang sangat ramah kepada Rakha, tidur di sebuah van di luar toko, dan akhir bersedia mencarikan sisa brownies setelah dibujuk oleh Willy. Dan setelah mendapatkan brownies terakhir itu, mereka langsung pulang ke Jakarta, dan sangat disayangkan, dalam perjalanan tersebut, sepupu Rakha memakan brownies tadi, dan kemudian dengan dermawannya memberikannya kepada pengamen cilik di lampu merah.

Saat konflik tersebut, Rakha benar-benar kecewa dan marah. Brownies terakhir yang dia usahakan berakhir di tangan pengamen. Tidak mungkin dia ke Bandung lagi untuk membelinya lagi, walaupun dia bersikukuh tentang ini dari permintaan “aneh” neneknya itu: amanah. Dia bisa saja membelinya di toko cabang Jakarta dan cukup bilang ke neneknya kalau dia membeli di Bandung. Tapi dia berusaha memegang amanah. Dan akhirnya dia teringat Mawar (Dinda Kanya Dewi) yang juga membeli brownies di Mama Cake Bandung dan “kebetulan” dia juga orang Jakarta. Saat Rakha ingin pulang ke Jakarta menggunakan kereta api, ia juga “kebetulan” bertemu kembali dengan Mawar, dan di situ dia minta nomor ponsel Mawar dan berjanji akan missed call, tapi belum bisa karena saat ia berusaha menelepon, saat itu Mawar masih menerima panggilan. Tapi kemudian ada konflik tak terduga, dia dikeroyok oleh preman, dan ponselnya direbut oleh para preman tersebut. Saat Rakha ingin menelepon Mawar, dia lupa nomornya. Maka dia berusaha mengingat nomornya dan menelepon nomor-nomor tersebut yang bisa ditebak, banyak salah sambung. Tapi akhirnya ia justru ditelepon oleh Mawar yang menerima missed call dari ponsel Willy. Langsung saja Rakha meminta alamat rumah Mawar, dan ia meminta brownies yang masih dipunyai Mawar yang ternyata itu adalah milik Rakha yang salah diambil Mawar ketika di stasiun.

Dalam film ini ada seorang tokoh yang kurang jelas perannya. Tokoh inilah yang ada di potongan video tadi, yang berdialog tentang filosofi sholat dengan Rio. Pada awal-awal plot, tokoh ini, yang belum sempat memperkenalkan diri, dia ditabrak mobil Rakha dkk, tapi anehnya tidak luka sama sekali, masih sehat wal afiat. Di dalam mobil saat nebeng ke Bandung, dia ngobrol tentang “you are what you eat”, sebuah obrolan “berat”. Dan kadang-kadang dia muncul secara tiba-tiba, seperti saat di rumah sakit dan berpapasan dengan Rakha.

Keanehan

Ada beberapa keanehan dari film ini, selain tokoh tanpa nama tadi. Pertama, secara visual, gambar rumput dan daun yang hijau, entah kenapa terlihat kebiruan. Lalu, entah kenapa mobil Rakha tiba-tiba hilang saat mencari ponsel Wily yang dibuang Rakha dari mobil. Kemudian, Mawar tidak sempat menjelaskan kenapa ia juga membeli brownies di Mama Cake Bandung. Lalu, ada lagi, pelayan toko meminta foto bareng Rakha dan Mawar. Dan ternyata foto mereka diberikan oleh pelayan toko kepada Ibu Mama Cake, scene tampil pada credit title. Dan yang aneh, Ibu Mama Cake itu terlihat sedih saat melihat foto Rakha dan Mawar. Dan siapakah dia sebenarnya? Apakah mungkin film ini direncanakan sequelnya mungkin? Ada lagi, scene kissing disensor dengan emotikon. Bukankah lebih baik jika tidak ada sekalian. Dan yang terakhir, nenek Rakha ternyata yang sudah meninggal, tiba-tiba menghampiri Rakha yang duduk di rumah sakit, dan memakan brownies yang dibawakannya. O ya, satu lagi, Willy itu suka mengumpat dalam bahasa Inggris, kalau tayang di TV, apakah disensor ya?

Sebagian scene-nya memang ambigu. Tapi saya suka scene-scene yang menghadirkan gagasan “fresh”, dan juga saat Rakha makan bareng Mawar di stasiun, Mawar bisa notice kalau Rakha kekurangan topik pembicaraan, dan bagaimana kemudian Rakha mau menceritakan petualangannya ke Bandung tersebut.
Yah, sepertinya saya sudah menulis cukup panjang selama 2 jam ini, sambil menunggu kuota malam… hehe… kebetulan akhir-akhir ini saya punya banyak inspirasi bahan tulisan. Dengan menonton film ini, saya seperti mendapat sebuah refreshing.

Nodame Cantabile, a Sort of Review

Liburan tahun baru minggu lalu, saya hanya di rumah. Gak ada acara OTW-OTW-an, seperti tahun lalu. Mungkin karena sudah ada beberapa teman yang menikah? Ah, tapi tahun lalu pun yang ikut ada yang sudah punya anak. Ya mungkin tahun ini spesies jomblonya semakin langka.

Nah, mumpung ada waktu luang, saya manfaatkan untuk nonton dorama 「ドラマ」 Nodame Cantabile [1]. Drama Jepang ini adalah drama yang sudah cukup jadul, tayang pada akhir tahun 2006. Diadaptasi dari man-ga yang terkenal, dengan judul yang sama. Versi animenya tayang selang 1 tahun setelah versi live action. Dan pada tahun 2014 dibuat remake live action versi drama Korea dengan judul Naeildo Cantabilre (Tomorrow’s Cantabile).

Drama ini ada 11 episode, ada 2 episode spesial yang tayang pada tahun 2008, serta dibuat juga filmnya yang tayang pada tahun 2009 dan 2010. Episode spesial dibuat karena versi man-ga belum tamat pada saat live action-nya dibuat.

Komentar saya

Drama ini berkisah tentang Noda Megumi (dipanggil Nodame), yang merupakan seorang mahasiswi sekolah musik yang pandai memainkan piano. Tokoh utama pria adalah Shinichi Chiaki, kakak kelas Nodame yang juga pandai memainkan piano serta biola. Cita-citanya adalah ingin menjadi konduktor, sehingga ia perlu menguasai banyak instrumen. Nodame adalah pribadi yang urakan, jorok dan semrawut walaupun punya kemampuan istimewa bisa memainkan kembali nada piano hanya dengan mendengarkan, tanpa partitur. Sangat kontras dengan Chiaki yang serba perfek, kecuali arogansinya.

Plot ceritanya bertutur tentang perjuangan Chiaki yang ingin menjadi konduktor musik. Ditambah dengan kisah percintaan yang tumbuh antara kedua tokoh utama. Yang membelokkan tujuan utama Nodame yang bercita-cita menjadi guru TK, berubah ingin mengejar prestasi Chiaki dengan menjadi pianis profesional dan tampil pada orkestra.

Tema musik klasik, piano, sekilas mengingatkan pada anime Shigatsu. Watak tokoh utama juga ada sedikit kemiripan. Chiaki yang jenius mirip dengan Kousei pada Shigatsu. Sedangkan Nodame yang hiperaktif juga sedikit mirip dengan Kaori. Perbedaanya adalah latar, di mana Shigatsu menceritakan anak SMP, sedangkan Nodame Cantabile lebih dewasa, di lingkungan kuliah.

Gue jadi suka nonton drama nih, kayaknya. Hahaha.

[1] http://wiki.d-addicts.com/Nodame_Cantabile