QML, Kotlin, Swift!

Ini lagi ramai tentang kemungkinan Google akan mengadopsi Swift1_2 sebagai bahasa pemrograman untuk aplikasi Android3. Walaupun masih rumor, Swift dipilih karena Open Source, yang mana Google tidak perlu memikirkan soal lisensi. Seperti kasus yang sedang dialami sekarang ini, yaitu Oracle sebagai pemegang lisensi Java meminta royalti dari Google atas penggunaan API Java di Android.

Swift ini berbasis Objective-C, karena diciptakan oleh Apple untuk ekosistem produk mereka: iOS, OSX, dll. Jika rumor tadi benar, artinya aplikasi Android akan butuh NDK4.

Yang menjadi pertanyaan, kenapa Swift ya? Kan sudah ada QML dan Kotlin. Apakah mungkin hanya karena lisensi?

QML adalah declarative UI markup language besutan Qt Foundation yang sekarang dimiliki Digia. Sedangkan Kotlin adalah a statically-typed programming language that runs on the Java Virtual Machine5 yang merupakan ciptaan Jetbrains, perusahaan yang membuat IDE populer seperti PHP Storm.

Sebagai info, QML digunakan oleh Ubuntu untuk platform mobile mereka.

Swift on Fedora

Nyicip Swift dulu ah…

Akhir dari beberapa hal

Pos ini ditulis pada tanggal 31 Maret 2016. Hari yang merupakan hari terakhir bulan Maret 2016. Yang juga berarti tanggal tua. Barangkali ada yang gajian besoknya. hehe…

Bulan ini saya belum menulis satu pos pun di blog ini. Nah, mumpung masih tersisa beberapa jam, saya poskan lah catatan ini.

Selain itu, hari ini adalah hari terakhir pelaporan SPT tahunan pribadi. Walaupun pelaporan secara online diundur sampai 30 April, karena sistem PPDB pusat mengalami “keberatan” (entah istilahnya apa). Lha wong WP seluruh Indonesia, mengakses e-Filling berbarengan. Servernya “jebol” dong… Ini patut dipertanyakan, sebenarnya servernya kayak gimana sih? (Maaf, no offense, saya sama sekali tidak bermaksud meremehkan)

Pelaporan SPT tahun ini sangat spesial, karena tahun lalu telah dicanangkan sebagai tahun pembinaan pajak, dan tahun ini mulai penegakan pajak. Ah, saya sendiri gak pusing-pusing. Lha wong nihil.

Selain soal SPT tahunan, ada lagi berita hot. Ubuntu akan menjadi bagian terintegrasi Windows 10![1] Wow, kok bisa? Dari sebuah skrinsot, saya melihat integrasi command line interface a la Linux di Windows yang dimaksud. Memang katanya sih, ini untuk “developer”. Wah, yang dual boot Ubuntu cuma untuk nyicip command line, bakal betah sama windows nih.

Kebetulan, Ubuntu saya mengalami bad sector, gak bisa booting. Awalnya masih ada ISO GrombyangOS yang saya buat bootable dengan grml. Tapi akhirnya benar-benar parah kerusakannya. Untungnya belum lama, saya beli hardisk second, karena hardisk pertama itu sudah full. Di hardisk second ini saya install Fedora 22 KDE yang 32 bit. Lumayan, sudah pakai KDE Plasma 5. Sebenarnya saya menunggu Ubuntu 16.04 (derivatif tentunya) yang akan menjadi versi long term support. Tapi saya kurang yakin kalau hardware akan mampu menjalankannya. Lebih-lebih karena bad sector yang parah itu. (Padahal “baru” 3 tahun) Tapi wajar juga kalau sudah bad sector. Soalnya dia sudah mengalami banyak hal berat dalam “hidup”-nya. -_-

Mengingat kembali kenapa saya lebih suka KDE

Awalnya kenal Linux, saya menggunakan Ubuntu. Waktu itu Ubuntu masih membawa desktop environment Gnome 2 yang masih meninggalkan kesan untuk saya. Dari tampilannya yang sederhana dan enteng, sampai kemudahannya untuk dikustomisasi menjadi tampilan yang benar-benar lain: menjadi mirip windows atau bahkan OSX. Hardware dengan spec rendah pun masih mampu menjalankannya dengan lancar. Justru KDE lebih “berat”, yang mungkin karena pengaruh efek desktopnya. Kesan “KDE lebih berat” saya dapatkan pada Live CD Kubuntu 8.10, yang diberikan Canonical dari program ShipIt. Yang mana proses loading Live CD lebih lama daripada Ubuntu Gnome.

Setelah bisa upgrade hardware, awalnya memakai Ubuntu Precise masih lancar saja. Tetapi lama kelamaan, karena saya suka update package yang termasuk kernel, VGA tidak mampu menangani Unity dengan baik, apalagi pada versi 14.04 LTS. Kernel versi lebih rendah dari 3.4 masih didukung oleh driver VGA buatan komunitas. Sedangkan kernel versi lebih baru tidak kompatibel lagi dengan driver open source tersebut. Alhasil, saya diberikan dua pilihan: tetap pada kernel lama dan Ubuntu versi Precise, atau menuruti hawa nafsu upgrade dengan kernel terbaru. Akhirnya saya pilih yang kedua, yang saat ini kernel sudah sampai versi 3.16 pada Trusty.

Jika disimpulkan, kenapa saya stuck pada KDE saat ini adalah karena hardware. Namun lebih dari itu, ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan.

  1. Gnome 2 sudah tidak didukung oleh Ubuntu setelah digantikan dengan Unity. Ini berarti saya sudah tidak bisa dengan bebas mudah mengubah tampilan desktop menjadi seperti OSX, misalnya. Pada waktu itu ada package gnome-globalmenu yang bisa menampilkan menu pada taskbar atas. Tetapi sekarang (waktu itu) package tersebut menjadi tidak berfungsi seperti sebelumnya. Mungkin saja fungsi tersebut sudah dibenamkan pada Unity, yang juga punya semacam global-menu di taskbar, dan pada Ubuntu terbaru saat ini menu bar dipindahkan pada title bar jendela.
  2. KDE ternyata mempunyai integrasi kalender Hijriyah. Pada Gnome 2 tidak ada integrasi semacam itu. Jika ingin menampilkan tanggal hijriyah pada desktop, perlu menginstal aplikasi lain, tapi tidak terintegrasi pada aplikasi kalender. Hanya berupa ikon pada taskbar yang menampilkan tanggal hijriyah saat ini. Nah, saat ini pada Gnome 3, integrasi kalender hijri sudah bisa diaplikasikan. Saya pernah melihat screenshot yang menampilkan kalender hijriyah pada applet kalender Gnome 3.
  3. KDE punya ‘ekosistem’. Banyak sekali aplikasi yang memang dirancang untuk berjalan pada lingkungan KDE. Biasanya mempunyai nama dengan awalan huruf K. ‘Ekosistem’ inilah yang dibawa oleh KDE Software Compilation (SC).
  4. KDE menggunakan library Qt. Kebetulan saya mempelajari pemrograman dengan Qt Framework. Dan KDE juga dibangun atas library Qt tersebut. Jadi, aplikasi yang saya kembangkan bisa lebih membaur dengan style KDE. Dan barangkali saya bisa berkontribusi dalam pengembangan KDE.
  5. Terinspirasi oleh komunitas. Redaktur utama FullCircle Magazine –majalah elektronik yang biasa saya baca– memakai KDE, bisa dilihat pada screenshot yang biasa ditampilkan dalam majalah. Saudara Ade Malsasa Akbar, penggiat Open Source Indonesia juga konsisten memakai KDE. Dan… bahkan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, memakai KDE! Walaupun cuma dalam scene film Social Network.

Selamat Tinggal

Selamat tinggal

Hal yang sudah lama tertunda ini akhirnya harus saya lepaskan. Pesan dari guru saya, jangan ngoyo, bisa-bisa jadi pikun. Saya tidak ingin ngoyo untuk mempertahankan keinginan itu: membuat ebook tentang instalasi program di Ubuntu secara offline. Dengan perkembangan pengguna Ubuntu sekarang ini, saya merasa yakin untuk menghapus catatan yang sudah menghiasi desktop KDE saya itu sejak lama. Sayounara

Klien Email Geary yang Praktis

Geary Mail Client
Geary Mail Client: kekurangan fitur enkripsi dan dekripsi email

Geary, aplikasi klien email di Linux yang praktis dan bagus. Sangat mudah dalam pengelolaan email dan akun surel. Geary memanfaatkan teknologi IMAP. Dengan tampilan yang minimalis tapi rapi, menjadikan saya suka aplikasi ini. Tetapi ada satu kekurangan yang cukup terasa, yaitu tiadanya fitur ekripsi dan dekripsi email. Pihak pengembang sudah pernah mengumumkan crowdfunding di Indiegogo untuk menggalang dana guna pengembangan sampai tahap enkripsi email. Namun saat itu target dana tidak tercapai dalam waktu yang ditentukan, sehingga sampai saat ini pun, fitur yang sangat dinantikan para penggunanya ini belum terealisasi.

Tips bagi pengguna Ubuntu pengguna internet Tri

Menggunakan sistem operasi Linux Ubuntu mutlak membutuhkan internet untuk instal aplikasi. Sebelum itu pun kita butuh internet untuk download file ISO sistem operasinya. Besaran file ISO berkisar pada ukuran data 1 GB. Ukuran yang lumayan besar untuk sebagian dari kita.

Dan sebagian dari kita pasti ada yang menggunakan kartu seluler Tri (3) untuk akses internet. Kalau saya sendiri memilihnya karena ada paket kuota internet murah pada jam kalong / tengah malam sampai pukul 06.00. Dan saat ini sedang ada paket sejenis yang waktu pemakaiannya diperpanjang sampai pukul 12 siang.

Paket-paket tersebut sudah cukup memadai dan terjangkau untuk install dan update aplikasi Ubuntu. Tapi tetap saja ada kekurangan yang kita dapat dari paket kuota murah tersebut. Misalnya saja jaringan kurang stabil (di daerah saya); sering mendapat laman error saat browsing (karena squid); nomor IP yang diblokir oleh beberapa situs; dan lain-lainnya.

Continue reading “Tips bagi pengguna Ubuntu pengguna internet Tri”

Mencoba Elementary OS Freya yang (katanya) ringan

Akhirnya setelah mengunduh selama 1 minggu dengan torrent, ISO Elementary OS Freya siap dicoba. Satu minggu bukan berarti on terus selama itu. Torrent kan bisa dijeda-lanjut kapan saja, selama ada peer. 😀

Saya iseng-iseng saja ingin mencoba satu distro turunan Ubuntu 14.04 ini. Saat melihat cuplikan layar, tampilannya mirip OSX. Dan menurut beberapa review, distro ini ringan (lightweight). Pasti mereka menjajalnya di PC high-end. Kalau di PC saya, mungkin ringan juga sih. Saya coba di Virtualbox pun cuma ngadatnya sedikit. Desktopnya saya kira GNOME 3, tapi ternyata Pantheon namanya.

Klik untuk memperbesar.

Membuat hotspot dengan Wifi dongle di Kubuntu

Wifi hotspot sudah bertebaran di mana-mana. Tapi tidak semuanya bisa kita konek dengan semaunya. Jika punya PC atau laptop yang bisa broadcast, maka kita bisa membuat access point sendiri. Dan kali ini saya mau share cara membuat AP dengan komputer Kubuntu. Versi Kubuntu yang bisa adalah minimal 14.04.

Saya pakai wifi dongle murahan dengan driver Ralink. Info di lsusb:

Bus 001 Device 021: ID 148f:3070 Ralink Technology, Corp. RT2870/RT3070 Wireless Adapter

Jika punya laptop, coba cek dengan perintah:

lspci -k | grep -A 3 -i "network". 1

Lihat Kernel driver in use apakah termasuk dalam perangkat yang didukung di http://linuxwireless.org/en/users/Devices/USB/.

Konfigurasinya

Klik setting pada daftar koneksi di network widget di panel.

Klik Add — Wireless (shared).

Isikan sesuai kebutuhan.

Jangan lupa memberikan password untuk access poin itu.

Dan terakhir, klik Connect agar wifi mulai memancarkan sinyal. Dan kita pun bisa memanfaatkannya untuk ponsel atau perangkat yang lainnya.

Kalau mau update jangan setengah-setengah

Mbongkar-bongkar Hafal Quran untuk publish versi terbaru. Sudah setengah tahun sejak terakhir commit. “Jeroannya” pakai Cordova, saya instal dalam Node.js di Ubuntu. Karena merasa sudah lumayan lama, saya update si Cordova, juga platform Android di project-nya. Saat perintah cordova build android, ada proses unduhan Gradle yang lumayan menyedot kuota internet. Setelah saya tunggu beberapa menit, eh, malah error. Kira-kira seperti ini:

[code language=”bash”]
-compile:
[javac] Compiling 8 source files to /home/bedouin/Projects/android/hafq-playstore/platforms/android/ant-build/classes
[javac] /home/bedouin/Projects/android/hafq-playstore/platforms/android/src/org/apache/cordova/file/LocalFilesystem.java:414: error: cannot find symbol
[javac] if (Build.VERSION.SDK_INT >= Build.VERSION_CODES.LOLLIPOP) {
[javac] ^
[javac] symbol: variable LOLLIPOP
[javac] location: class VERSION_CODES
[javac] /home/bedouin/Projects/android/hafq-playstore/platforms/android/src/org/apache/cordova/file/LocalFilesystem.java:415: error: cannot find symbol
[javac] for (File f : context.getExternalMediaDirs()) {
[javac] ^
[javac] symbol: method getExternalMediaDirs()
[javac] location: variable context of type Context
[javac] 2 errors
BUILD FAILED
/home/bedouin/Apps/android-sdk/tools/ant/build.xml:720: The following error occurred while executing this line:
/home/bedouin/Apps/android-sdk/tools/ant/build.xml:734: Compile failed; see the compiler error output for details.
[/code]

Di situ terlihat ada kata Lolliop, pasti ada hubungannya dengan versi Android 5. Sedangkan di Android SDK saya, versi tools terbaru yang terinstal adalah android-19, atau 4.4.2 Kitkat. Mau saya instal Lolipop tapi kok unduhya lumayan besar. Saya cari cara lain. yaitu downgrade versi platform android Cordova ke 3.6.4. Tapi ternyata masih belum terpecahkan problemnya. Karena sudah berulang-ulang saya bongkar-pasang platform tsb, akhirnya saya unduh saja tools Android SDK 5.1.1-nya. Dan akhirnya problem SOLVED. Karena mungkin versi Cordova 5.0.0 ini memang butuh android-22 sebagai platform untuk building.

Sebuah pelajaran yang bisa saya ingat. Bahwa jangan setengah-setengah kalau update. Atau lebih baik tidak update juga tidak masalah. Kalau setengah-setengah kan hasilnya jadi sedih. Kuota yang sebenarnya bisa sampai satu minggu, habis dalam sehari. 🙁

“Seminar Tahunan Forum Ubuntu Indonesia”

Ubuntu Indonesia punya website baru, http://ubuntu.id/. Dengan tajuk “Seminar Tahunan Forum Ubuntu Indonesia”. Ternyata acara yang akan diadakan pada 23 Mei mendatang merupakan acara tahunan ke-5. Shiranai yo

Tema kali ini adalah “Ubuntu: Sistem Perkantoran Profesional”. Menargetkan peserta sebanyak 250 orang, baik kalangan bisnis maupun masyarakat umum. Wah, saya juga berkesempatan ini.

Seminar akan diisi oleh 6 orang narasumber dari kalangan bisnis, praktisi, dan penggiat Open Source yang juga akan dihadiri oleh beberapa tamu undangan dari beberapa instansi pemerintah maupun swasta.

Sedangkan sesi lokakarya akan diisi oleh 3 orang yang tidak asing. Saya sering melihat mereka di media sosial maupun Forum Ubuntu Indonesia sendiri. Salah satunya, saudara @nif adalah penggiat Ubuntu yang paling sering nongol di FUI. Akhir-akhir ini saja saya lihat di fb. 😀

Dua orang yang lain lebih aktif di grup-grup fb. La karena saya juga lebih aktif di fb. Mereka adalah Etc Session 1, anggota tim pengembang Grombyang OS; dan Sokhibi Imgos, penggiat Open Source, terutama aplikasi desain grafis Inkscape dan juga penulis buku tentangnya. Sugoi.

 Sesi lokakarya akan menghadirkan pemateri dari warga Forum Ubuntu Indonesia yang membawakan pemrograman bash script, dari Komunitas Grombyang OS (GrosTeam) yang akan mendemokan remastering ubuntu 15.04 menggunakan UCK, serta dari komunitas Inkscape Indonesia akan mengisi kelas desain grafis.

Pasti ramai acaranya ya. Sukses buat semuanya aja lah. Saya senang sekali dengan perkembangan yang luar biasa ini. Open source Indonesia berkembang pesat. Saya bangga menjadi pengguna open source software.


  1. Kayaknya bukan nama asli :)