Kompartementalisasi hati

Bukan hidup namanya kalau selalu baik-baik saja. Banyak hal yang harus dikerjakan, diraih, diperjuangkan, hingga terpaksa direlakan. Akan ada momen ‘jatuh bangun’ yang harus kita lewati. Mungkin saat ini kamu sedang sibuk mengurus skripsi, bergulat dengan tugas-tugas kantor, berjuang memapankan kondisi finansial, hingga merencakan pernikahan dan masa depan.Lalu, bagaimana cara mengatasi tekanan dan tantangan yang selalu mampir di hidup kita? Bagaimana harus berjibaku dengan berbagai hal yang sepertinya datang secara bersamaan? Ternyata, ada satu solusi untuk mengatasi semuanya: kompartementalisasi.

Pada posting sebelum sebelumnya, pernah saya singgung sedikit tentang kompartementalisasi. Nah, barusan saya Duckduckgoing, hasil teratas adalah tulisan dari Hipwee berikut ini. Check it out!

Sumber: Mikirin Kuliah, Pekerjaan, Sampai Rencana Nikah? Ini Caranya Supaya Hidupmu Lebih Terarah!

Loving You: Merit Yuk

Eh, enggak, enggak, aku enggak ngajak kamu merit. Itu hanya judul buku yang sempat berhenti kubaca. Berikut ini cuplikan ulasan saya di Goodreads. Kalau mau baca bukunya, boleh pinjam aku kok. 🙊

Loving You: Merit Yuk!Loving You: Merit Yuk! by O. Solihin

My rating: 4 of 5 stars

Sangat bermanfaat untuk kita yang sedang berupaya untuk menuju masa depan bersama separuh agama. ehm…

Pembahasan sangat komplit dari definisi cinta sampai penanganan konflik dalam rumah tangga setelah menikah. Merit yuk!

View all my reviews

Jomblo itu idealisme

Nah kan? Karena hanya menganggapnya sarkasme, saya tidak mementingkan makna jomblo dan idealisme! Alhasil, gagal paham, tapi terus saja berkoar-koar, kosong tak berbobot.

Nemu tulisan di http://derfafu.blogspot.co.id/2015/09/jomblo-itu-idealisme.html tentang jomblo itu idealisme. Ternyata saya belum memahami arti dari jomblo yang sebenarnya, karena seperti yang disampaikan tulisan tersebut, kata jomblo tidak terdapat dalam KBBI. (Yang ada ‘jomlo’). “Mengerti, tapi tidak memahami.”

Menurut tulisan tersebut, makna jomblo lebih menyempit daripada yang selama ini saya yakini. Menurutnya, jomblo berkaitan dengan pacaran. Jadi, status jomblo terjadi karena tidak pacaran. Sedangkan menurut saya, tidak hanya pacaran, status jomblo bisa terjadi karena belum menikah. Jadi, perbedaannya adalah pacaran dan menikah. Cukup jelas.

Perbedaan itu, jika kita asumsikan bahwa sebagian orang menganut paham pacaran, dan sebagian lainnya menganut paham nikah, maka sudah jelas idealisme yang dianut juga. Berarti sudah jelas di mana idealisme saya. Idealisme yang hampir saja runtuh karena sebuah kebodohan. Tetapi Tuhan masih menyelamatkanku.