Mungkin perlu mencoba OpenSUSE

Setidaknya ada 3 atau 4 perusahaan pengembang sistem operasi berbasis Linux yang saya ketahui: Canonical, Red Hat, Novell, Mandriva. Saya sudah pernah atau sedang menggunakan sistem operasi buatan tiga vendor dari empat itu. Tinggal satu yang belum pernah saya cicip, yaitu OpenSUSE besutan Novell dan sekarang dipisah menjadi SUSE Linux GmbH ^1 [^2]

SUSE merupakan singkatan dari System und Software Entwicklung, dalam bahasa Jerman. Menurut sejarahnya, perusahaan ini didirikan sejak 1992, berpindah kepemilikan beberapa kali, dan yang terakhir ini dimiliki Micro Focus International. Walaupun perusahaannya sudah hampir seperempat abad berdiri, tetapi OpenSUSE sendiri dirilis sejak 2005.

Kenapa saya merasa perlu menjajal OpenSUSE adalah karena saya pernah belajar bahasa Jerman. Ada rasa kedekatan dengan Jerman. Selain itu, desktop utama yang diusung OpenSUSE adalah KDE. Dan sebelumnya saya sudah menambatkan diri ke KDE, yang mana headquarter pengembangnya ada di Jerman, yaitu KDE e.V. Dan Jerman juga menjadi markas The Document Foundation yang memelihara LibreOffice dan format dokumen terbuka.


[^2]: GmbH: Gesellschaft mit beschränkter Haftung

Upgrade Fedora 24 Spin KDE

Empat hari lalu, Fedora 24 telah dirilis! Kini saatnya mencoba upgrade ke versi 24 dengan dnf.

upgrade fedora kde via konsole

Yang perlu diperhatikan adalah kita perlu menonaktifkan repo RPMFusion terlebih dahulu. Kemudian perintah dnf system-upgrade perlu ditambah parameter --allowerasing agar aplikasi-aplikasi yang diinstall secara manual boleh dihapus saat proses upgrade.

Perintah secara keseluruhan:

sudo dnf install dnf-plugin-system-upgrade
sudo dnf config-manager --set-disabled rpmfusion-free
sudo dnf config-manager --set-disabled rpmfusion-nonfree
sudo dnf config-manager --set-disabled rpmfusion-free-updates
sudo dnf config-manager --set-disabled rpmfusion-nonfree-updates
sudo dnf system-upgrade download --releasever=24 --allowerasing

Photorec is awesome!

Ceritanya teman saya punya kamera DSLR. Saya mau meng-copy foto-foto dan video-videonya yang ukurannya besar-besar. Bahkan ada video yang berukuran 1 GB.

Untuk meng-copy dari SD card, saya harus menggunakan card reader (yang murah saja). Dan kebetulan saya pakai Windows saat mau meng-copy tersebut. Dua faktor itulah yang menyebabkan disaster. (Mungkin) Karena card reader yang murah dan diakses di windows, dan ukuran data yang besar-besar, dan kecepatan transfer data yang kurang cepat, saat saya klik kanan folder yang memuat data-datanya, explorer sempat hang dan ternyata file-file di dalamnya sudah tidak berbentuk lagi, terutama file video. Yang sebelumnya ada belasan hingga dua puluhan video, hanya tersisa dua video utuh. Sisanya adalah file corrupt dengan nama karakter acak yang berukuran 2,5 GB yang tidak bisa dihapus. Jika sudah begitu, cara satu-satunya adalah mem-format SD card tersebut. Tetapi sebelum itu, file foto dan video yang berharga harus diselamatkan dulu dong. Googling sana sini, tidak ada cara yang lebih manjur daripada menggunakan Photorec atau Testdisk. Ya sudah, saya coba dengan sedikit khawatir data tidak kembali dengan utuh. Karena pernah me-recovery data menggunakan software gratis (di windows), yang memakan waktu berjam-jam, tetap saja file-file tidak kembali dengan sempurna. Ya mungkin karena drive sudah ditulisi data lagi sih. Nah, mumpung SD card teman saya ini belum dipakai lagi, dan saya harus bertanggung jawab, langsung saja saya recover. Untuk SD card 32 GB, butuh waktu kurang lebih 4 jam! TETAPI sungguh hasilnya SANGAT memuaskan. bahkan video yang sudah tidak saya lihat keberadaanya bisa direcover dengan sempurna. Bisa dilihat buktinya dari gambar-gambar berikut.

photorec in action

photorec finished recovering

hasil recover photorec

Main Game di Fedora Linux

Siapa bilang Linux gak bisa main game? Itu mah dulu. Sekarang ada Steam yang bisa kita gunakan sebagai aplikasi bantuan untuk main game.

steam

Pilihan game-nya cukup banyak, walaupun untuk OS Linux masih terbatas. Coba dulu yang gratis, kalau ketagihan, beli yang berbayar. Saya coba salah satu yang gratis, game palu arit… 😀 Itu adalah game FPS, seperti Point Blank. Tapi, saya gak bisa mainnya. 😀


Edit: Saya kelupaan tidak menuliskan cara install Steam di Fedora. Jadi, saya mendapatkan Steam dari aplikasi Fedy. Silakan cari tutorial untuk install Fedy pada Fedora.

fedy

Mengingat kembali kenapa saya lebih suka KDE

Awalnya kenal Linux, saya menggunakan Ubuntu. Waktu itu Ubuntu masih membawa desktop environment Gnome 2 yang masih meninggalkan kesan untuk saya. Dari tampilannya yang sederhana dan enteng, sampai kemudahannya untuk dikustomisasi menjadi tampilan yang benar-benar lain: menjadi mirip windows atau bahkan OSX. Hardware dengan spec rendah pun masih mampu menjalankannya dengan lancar. Justru KDE lebih “berat”, yang mungkin karena pengaruh efek desktopnya. Kesan “KDE lebih berat” saya dapatkan pada Live CD Kubuntu 8.10, yang diberikan Canonical dari program ShipIt. Yang mana proses loading Live CD lebih lama daripada Ubuntu Gnome.

Setelah bisa upgrade hardware, awalnya memakai Ubuntu Precise masih lancar saja. Tetapi lama kelamaan, karena saya suka update package yang termasuk kernel, VGA tidak mampu menangani Unity dengan baik, apalagi pada versi 14.04 LTS. Kernel versi lebih rendah dari 3.4 masih didukung oleh driver VGA buatan komunitas. Sedangkan kernel versi lebih baru tidak kompatibel lagi dengan driver open source tersebut. Alhasil, saya diberikan dua pilihan: tetap pada kernel lama dan Ubuntu versi Precise, atau menuruti hawa nafsu upgrade dengan kernel terbaru. Akhirnya saya pilih yang kedua, yang saat ini kernel sudah sampai versi 3.16 pada Trusty.

Jika disimpulkan, kenapa saya stuck pada KDE saat ini adalah karena hardware. Namun lebih dari itu, ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan.

  1. Gnome 2 sudah tidak didukung oleh Ubuntu setelah digantikan dengan Unity. Ini berarti saya sudah tidak bisa dengan bebas mudah mengubah tampilan desktop menjadi seperti OSX, misalnya. Pada waktu itu ada package gnome-globalmenu yang bisa menampilkan menu pada taskbar atas. Tetapi sekarang (waktu itu) package tersebut menjadi tidak berfungsi seperti sebelumnya. Mungkin saja fungsi tersebut sudah dibenamkan pada Unity, yang juga punya semacam global-menu di taskbar, dan pada Ubuntu terbaru saat ini menu bar dipindahkan pada title bar jendela.
  2. KDE ternyata mempunyai integrasi kalender Hijriyah. Pada Gnome 2 tidak ada integrasi semacam itu. Jika ingin menampilkan tanggal hijriyah pada desktop, perlu menginstal aplikasi lain, tapi tidak terintegrasi pada aplikasi kalender. Hanya berupa ikon pada taskbar yang menampilkan tanggal hijriyah saat ini. Nah, saat ini pada Gnome 3, integrasi kalender hijri sudah bisa diaplikasikan. Saya pernah melihat screenshot yang menampilkan kalender hijriyah pada applet kalender Gnome 3.
  3. KDE punya ‘ekosistem’. Banyak sekali aplikasi yang memang dirancang untuk berjalan pada lingkungan KDE. Biasanya mempunyai nama dengan awalan huruf K. ‘Ekosistem’ inilah yang dibawa oleh KDE Software Compilation (SC).
  4. KDE menggunakan library Qt. Kebetulan saya mempelajari pemrograman dengan Qt Framework. Dan KDE juga dibangun atas library Qt tersebut. Jadi, aplikasi yang saya kembangkan bisa lebih membaur dengan style KDE. Dan barangkali saya bisa berkontribusi dalam pengembangan KDE.
  5. Terinspirasi oleh komunitas. Redaktur utama FullCircle Magazine –majalah elektronik yang biasa saya baca– memakai KDE, bisa dilihat pada screenshot yang biasa ditampilkan dalam majalah. Saudara Ade Malsasa Akbar, penggiat Open Source Indonesia juga konsisten memakai KDE. Dan… bahkan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, memakai KDE! Walaupun cuma dalam scene film Social Network.

Ingin mencoba KDE Plasma terbaru

Belum lama ini, Kubuntu dan Fedora merilis versi terbarunya. Kubuntu merilis versi 15.10 dengan nama kode Willy Werewolf. Sedangkan Fedora merilis versi 23 yang paling mutakhir. Saya pilih Fedora Workstation yang KDE. Keduanya membawakan KDE versi terbaru dengan Plasma 5 yang menghadirkan suasana KDE yang segar. Jadi bingung mau instal yang mana…