Lagi-lagi cinta tak ingin berpisah

Lagi-lagi saat aku ingin melepaskan satu cinta, ia seolah tak rela untuk berpisah.

😅😅😅

Tolong jangan berpikiran kalau saya ini alay, karena di dunia nyata, anda tidak akan menemukan saya seperti itu.

Rasanya saya sudah tidak bersemangat lagi mempelajari bahasa Jepang, apalagi setelah tahu bahwa dia… Ah… Terlalu indah untuk diingat-ingat.

Makanya saya terbersit satu pikiran untuk berhenti mempelajarinya saja. Berhenti total. Tetapi ia terlalu indah untuk ditinggalkan.

Dan di saat kebimbangan itu muncul, datanglah sebuah pengingat. Mungkin saya harus terus belajar dan mencintainya.

Berbeda dengan bahasa Jerman di pos sebelumnya, yang pengingatnya terbilang “remeh” tak ada urgensi. Untuk kali ini, pengingatnya sangat bermakna, bagi saya pribadi.

Saya hampir lupa kalau beberapa waktu lalu saya mengikuti tes JLPT level N5 di Jogja. Salah satu penyebabnya adalah karena saya tidak bisa melihat hasil ujian secara online. Password yang didapat saat pendaftaran entah dikirim ke mana, karena saya minta tolong didaftarkan teman saya yang di Jogja sana. Entah email siapa yang didaftarkan, saya tidak ingat. 😅

Karena itulah, saya jadi pasrah saja. Memang dengar-dengar dari seorang teman yang pernah ikut ujian itu, hasil resminya akan dikirim via pos pada bulan Maret. Tapi ditunggu-tunggu kok belum datang sebelum hari kemarin.

Dan akhirnya pak pos membawakan kejutan yang indah. 😁

Ini pengalaman pertama saya ikut ujian JLPT, jadi ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Sebenarnya saya ikut ujian yang levelnya paling rendah, paling mudah. Sekedar untuk mengukur seberapa kemampuan bahasa Jepang yang saya pelajari. Dan walaupun itu adalah ujian level termudah, saya jadi percaya diri untuk belajar bahasa Jepang, lagi. Ganbaranakya, boku wa!

Seolah-olah cinta tak ingin ditinggalkan

Iya saya sadar, judulnya terlalu lebai. Biar kelihatan “wah” saja sih.

Saat ini saya ingin fokus belajar hal-hal yang esensial saja. Mengingat ketersediaan waktu yang tidak banyak. (Sebenarnya hanya dalih untuk manajemen waktu dan manajemen stress yang kurang rapi) Oleh karena itu, saya rasa perlu menjeda sementara waktu untuk belajar beberapa hal lain yang “kurang esensial”.

Salah satu yang ingin saya korbankan adalah bahasa Jerman. Sepertinya memang sangat tidak esensial bagi saya untuk mempelajarinya. Pada satu tulisan yang lalu, pernah saya bahas kenapa saya begitu cinta dengan bahasa Jerman. Kalau dipikir-pikir lagi, sudah tidak ada manfaatnya jika saya mempelajarinya, kecuali sedikit.

Tentang bahasa Jerman, kalau ditinjau dari penuturnya, bahasa Jerman tidak begitu bertaut dengan diri saya, sebagai seorang Muslim dan seorang Indonesia. Tidak ada satu negara Islam pun yang menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa resmi negara. Sejumlah negara Islam, terutama di Afrika utara justru memakai bahasa Perancis. Nah seharusnya dia yang saya pelajari. Dulu ada teman yang mendapat pelajaran bahasa Perancis sewaktu sekolah, dan saya tanya-tanya sedikit tentangnya, karena ia terlihat sangat antusias mempelajarinya. Saya masih cukup ingat kenapa ia sangat tertarik mempelajarinya walaupun menurutnya pun bahasa Perancis sangat sulit, terutama pengucapannya yang sama sekali berbeda dengan tulisannya, berbeda dengan bahasa Jerman. Ia berusaha mencintai bahasa Perancis karena terinspirasi oleh satu novel favoritnya, (seingat saya) Laskar Pelangi yang tokoh utamanya juga belajar bahasa Perancis.

Walaupun tidak ada negara Islam yang memakai bahasa Jerman, saat ini, di Jerman semakin banyak imigran dari Turki yang datang, yang tentunya mereka harus bertutur dengan bahasa Jerman agar diterima di negara itu sebagai warganya. Hal ini cukup menjadi alasan saya untuk mencintai bahasa Jerman. Ya, barangkali di masa depan saya bisa berkunjung ke saudara Muslim di Jerman.

Sebagai orang Indonesia, saya pikir kita tidak ada sejarah yang baik atau buruk dengan Jerman secara langsung, pada zaman dahulu kala. Maksud saya, Jerman tidak pernah menjajah negara kita pada zaman kolonial, ataupun membela atau memerdekakan kita saat itu. Justru di samping itu, ada seorang tokoh kita, mantan presiden B.J. Habibie yang mengangkat nama baik Indonesia di mata Jerman atas prestasi-prestasi beliau. Beliaulah yang sedikit banyak telah menginspirasi saya untuk tetap mempelajari bahasa Jerman. Yang lama-kelamaan saya menemukan beberapa kata serapan bahasa Indonesia yang asalnya dari bahasa Jerman (atau mungkin Belanda sih).

Kembali ke tajuk, dari dulu ternyata saya belum pernah mendengarkan lagu dalam bahasa Jerman. Selain karena saya ikut golongan yang mengharamkan musik (tetapi tidak ekstrem), saya pernah mendengar bahwa bahasa Jerman tidak cocok kalau dinyanyikan. Pengucapannya itu sulit, seperti bahasa Perancis, juga bahasa Korea sebenarnya.

Saya bahas tentang lagu, karena ada pendapat bahwa mendengarkan lagu dalam bahasa yang dipelajari itu bisa membantu untuk belajar. Ya, sedikit banyak memang membantu. Menurut saya hanya memberi kita referensi cara pengucapan saja, seperti bahasa Jerman ini. Sedangkan aspek lain, semisal tata bahasa dan kosa kata, saya rasa tidak membantu, karena lagu itu adalah sastra, yang tingkatannya di atas bahasa komunikasi lisan biasa.

Saya belum pernah menemukan lagu-lagu bahasa Jerman karena keburu menganggap “lagunya pasti tidak enak didengar”. Maher Zain yang poliglot saja cuma membuat versi bahasa Perancis untuk beberapa lagunya, dan bahasa Turki, bukan bahasa Jerman. Nah kemarin saya iseng mencari lagi lagu-lagu bahasa Jerman terbaik. Akhirnya saya menemukan satu band yang –menurut satu komen di Youtube– adalah band terbaik Jerman, namanya Silbermond. Lagu-lagunya di Youtube begitu enak didengar, sampai saya tidak merasa pengucapannya itu sulit.

Silbermond ini vokalisnya wanita, mengingatkan saya pada satu band J-Pop favorit saya juga, Ikimonogakari yang juga merupakan salah satu band terbaik, di Jepang. Mengingat ke belakang, saat saya belajar bahasa Jepang, saya juga mencari-cari lagu Jepang untuk membantu belajar. Dari sekian banyak penyanyi dan band, saya lebih memilih Ikimonogakari. Lagu-lagunya memang kebanyakan tentang cinta, tetapi cinta yang universal, bukan sekedar hubungan romantisme antara cowok dan cewek yang dilanda asmara. Sampai saat ini saya kadang-kadang masih mendengarkan lagu-lagu Ikimonogakari. Walaupun sudah tidak antusias belajar bahasa Jepang, atau justru ingin saya lepaskan cinta ini, Ikimonogakari menjadi perekat cinta pada bahasa Jepang. Sama halnya dengan Silbermond, mungkin ia akan menjadi perekat dengan bahasa Jerman, jika saya mencintainya, padahal saya ingin melepas cinta dengan bahasa Jerman. Mungkin ia tak mau ditinggalkan.

Ulasan Film Kimi no Na wa

Seperti awal tahun sebelumnya, saya lebih memilih di rumah saja daripada hujan-hujanan di luar. You know what I mean. 😀

Nah, seperti tahun lalu juga, saya mau mengulas film Kimi no Na wa, sebuah film anime Jepang yang sangat populer saat ini. Film ini tayang di jaringan bioskop CGV Blitz. Tapi saya tidak nonton sih. 😀 Bioskop CGV Blitz terdekat ada di Jogja bro! Gak sempat ke sana (lagi). Kemarin pas ke sana tanggal 4 Desember, belum tayang. Soalnya Indonesia dapat jatah tayang tanggal 7 Desember.

Promo Kimi no Na wa

Daripada penasaran, baca sajalah ulasan filmnya. Sudah ada di Wikipedia! Ini cuplikannya:

Mitsuha Miyamizu, seorang siswi sekolah menengah atas yang tinggal di desa Itomori, mulai bosan dengan kehidupannya di pedesaan tempat dia lahir dan berharap dapat terlahir menjadi pemuda tampan yang hidup di Tokyo pada kehidupan selanjutnya. Kemudian, Taki Tachibana, seorang siswa sekolah menengah atas yang tinggal di Tokyo, terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa dirinya adalah Mitsuha, yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam tubuh Taki.

Selengkapnya di https://id.wikipedia.org/wiki/Kimi_no_Na_wa.

Film ini pertama kali diputar di konvensi Anime Expo 2016 di Los Angeles, California pada 3 Juli 2016, dan kemudian dirilis di bioskop-bioskop di Jepang pada 26 Agustus 2016. Film ini dijadwalkan untuk dirilis di 92 negara, termasuk di Indonesia. Untuk dapat ikut serta dalam Oscar, film ini dirilis selama sepekan (2-8 Desember 2016) di Los Angeles. Pada tahun 2017, film ini akan mendapatkan rilis yang lebih luas di berbagai bioskop di negara bagian Amerika Serikat yang lainnya.[^1]

Ulasan lainnya bisa dibaca di:

  1. https://istorialina.wordpress.com/2016/12/30/movie-review-kimi-no-na-wa-your-name/
  2. https://myanimelist.net/anime/32281/Kimi_no_Na_wa/reviews
  3. https://www.rottentomatoes.com/m/your_name_2016/
  4. http://www.imdb.com/title/tt5311514/

Melihat nilai review yang bagus, tak heran jika film ini sangat populer. Tetapi yang unik, sang sutradara malah berharap agar para fans untuk tidak menontonnya lagi[^2]. 😮

[^1] Wikipedia
[^2] https://japanesestation.com/makoto-shinkai-minta-fans-berhenti-menonton-kimi-no-na-wa/

3J: Jawa Jepang Jerman

Saya orang Jawa, pernah belajar bahasa Jerman, dan ingin pergi ke Jepang. Cukup 3 ini yang ingin saya fokuskan. Soalnya keren, huruf J-nya pas 3. Dan tahu tidak? Tulisan ini ditulis dalam bahasa Indonesia.

Nodame Cantabile, a Sort of Review

Liburan tahun baru minggu lalu, saya hanya di rumah. Gak ada acara OTW-OTW-an, seperti tahun lalu. Mungkin karena sudah ada beberapa teman yang menikah? Ah, tapi tahun lalu pun yang ikut ada yang sudah punya anak. Ya mungkin tahun ini spesies jomblonya semakin langka.

Nah, mumpung ada waktu luang, saya manfaatkan untuk nonton dorama 「ドラマ」 Nodame Cantabile [1]. Drama Jepang ini adalah drama yang sudah cukup jadul, tayang pada akhir tahun 2006. Diadaptasi dari man-ga yang terkenal, dengan judul yang sama. Versi animenya tayang selang 1 tahun setelah versi live action. Dan pada tahun 2014 dibuat remake live action versi drama Korea dengan judul Naeildo Cantabilre (Tomorrow’s Cantabile).

Drama ini ada 11 episode, ada 2 episode spesial yang tayang pada tahun 2008, serta dibuat juga filmnya yang tayang pada tahun 2009 dan 2010. Episode spesial dibuat karena versi man-ga belum tamat pada saat live action-nya dibuat.

Komentar saya

Drama ini berkisah tentang Noda Megumi (dipanggil Nodame), yang merupakan seorang mahasiswi sekolah musik yang pandai memainkan piano. Tokoh utama pria adalah Shinichi Chiaki, kakak kelas Nodame yang juga pandai memainkan piano serta biola. Cita-citanya adalah ingin menjadi konduktor, sehingga ia perlu menguasai banyak instrumen. Nodame adalah pribadi yang urakan, jorok dan semrawut walaupun punya kemampuan istimewa bisa memainkan kembali nada piano hanya dengan mendengarkan, tanpa partitur. Sangat kontras dengan Chiaki yang serba perfek, kecuali arogansinya.

Plot ceritanya bertutur tentang perjuangan Chiaki yang ingin menjadi konduktor musik. Ditambah dengan kisah percintaan yang tumbuh antara kedua tokoh utama. Yang membelokkan tujuan utama Nodame yang bercita-cita menjadi guru TK, berubah ingin mengejar prestasi Chiaki dengan menjadi pianis profesional dan tampil pada orkestra.

Tema musik klasik, piano, sekilas mengingatkan pada anime Shigatsu. Watak tokoh utama juga ada sedikit kemiripan. Chiaki yang jenius mirip dengan Kousei pada Shigatsu. Sedangkan Nodame yang hiperaktif juga sedikit mirip dengan Kaori. Perbedaanya adalah latar, di mana Shigatsu menceritakan anak SMP, sedangkan Nodame Cantabile lebih dewasa, di lingkungan kuliah.

Gue jadi suka nonton drama nih, kayaknya. Hahaha.

[1] http://wiki.d-addicts.com/Nodame_Cantabile