"You can easily judge the character of a man by how he treats those who can do nothing for him."

Rute Perjalanan Jogja - Dieng - Batang (Pekalongan)

Ditulis pada tanggal 21/01/2018

author avatar

Dalam:
Ruparupa

Kait kata:
travelling perjalanan

Yogyakarta - Dieng 3 Jam

Ingin mencoba rute Jogja-Batang selain yang biasanya melalui Temanggung, kali ini saya nekat memberanikan diri lewat Dieng! Selain karena ingin mencoba hal rute baru (dan melihat daerah baru), saya juga agak kangen Dieng. Liburan semester kemarin, saya diajak teman-teman yang mengadakan piknik ke Dieng, bertepatan dengan acara Dieng Cultural Festival, nah sedangkan semester ini tidak ada yang menginisiasi acara liburan. Semacam kurang piknik, gitu. Saya tidak mau menginisiasi, karena pada dasarnya saya bukan ahlul piknik. :haha:

Kalau menurut mbah Google, perkiraan total waktu tempuh kurang lebih 5 jam, lebih lama 1 jam daripada rute biasa lewat Parakan. Tapi perjalanan saya itu tidak sesuai ekspektasi yang ditawarkan Google. Saya menempuh perjalanan itu selama 6 jam lebih! Nah itulah yang akan saya ceritakan, kenapa bisa begitu. Awalnya saya mengira bahwa perjalanan ini akan membosankan, tidak seperti pada kesempatan naik kereta yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya. Tapi bagaimanapun, ada sekelumit pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan kali ini.

pilihan rute jogja-dieng

Di google Maps, ada 3 pilihan rute menuju Dieng dari arah Jogja (lihat gambar di atas). Biasanya rute yang disarankan google adalah rute yang paling atas, lewat Parakan lalu Muntung. Saya tidak memilihnya karena sampai Parakan saja sudah separuh rute biasa. Kan ini temanya mencoba hal baru, makanya pilihannya tinggal 2: lewat Borobudur atau Purworejo. Rute Purworejo tidak saya pilih karena waktu tempuh yang lebih lama.

Perjalanan start dari Sleman1 pukul 08.04 melalui jalan Magelang, masih jalan yang biasa saya lewati. Diiringi hujan rintik-rintik. Kurang lebih 30 menit, belok kiri ke arah objek wisata Borobudur, terus menyusuri jalan ke Purworejo. Terus saja ikuti jalan itu sampai berkilo-kilo (gak saya hitung lah :haha: ) sampai ada persimpangan. Ada rambu penunjuk jalan, tapi saya terlalu attached-nya ke google, saya abaikan tulisan Wonosobo yang mengarahkan untuk belok kanan. Yang membuat saya kurang yakin adalah karena pertigaannya "kurang meyakinkan" untuk sebuah persimpangan yang menghubungkan dua kota. Persimpangan itu tidak cukup besar menurut saya, dan berada di jalur yang menanjak, serta ada petugas parkir yang mengatur lalu lintas, seperti yang biasa saya temui di banyak persimpangan kecil di Jogja.

Dengan mengalahkan ego dan mempertanyakan keyakinan, saya berhenti sejenak untuk memastikan rute google maps. Dan ternyata benar, itulah persimpangan di mana seharusnya saya belok kanan untuk menuju Wonosobo. Untung saja belum terlalu jauh, karena kalau saya terus lurus, akan sampai ke Purworejo. Sampai di situ sudah tidak hujan.

Sampai Wonosobo kurang lebih pukul 11-an, atau dari Borobudur 1 jam lebih. Semenjak dari Borobudur, saya tidak bisa ngebut selain karena jalan licin, juga karena ban belakang sedang cedera. Sebelum mencapai Wonosobo kota, saya berhenti sebentar di SPBU Kertek. Dan sebelum itu juga, saya menjumpai ada operasi lalu lintas. Saya agak was-was karena plat nomor belakang tidak ada, jatuh entah di mana di Jogja. Tapi karena surat-surat lengkap, saya pede saja dan mencoba menutupi muka panik, akhirnya saya lolos dengan selamat dari operasi itu. :haha:

Kota Wonosobo itu cantik. Dikelilingi gunung-gunung, pemandangan di sana cukup memanjakan indera penglihatan saya. Walaupun cuma lewat, rasanya cukup terhibur hati ini.

gapura selamat datang dieng

Untuk mengejar waktu, saya terus saja melaju, walaupun sebenarnya cukup capek, karena berarti sejak dari Sleman, selama 3 jam hampir tidak istirahat! :wow: Akhirnya saya sampai di kawasan Dieng sebelum pukul 12 siang. Di jalanan itu suhu udara semakin menurun, saya merasa semakin dingin. Pemandangan yang tampak di pinggiran jalan sungguh memesona, menentramkan. Rasa capek berkendara dan dinginnya udara terbayarkan oleh keindahan itu.

Saya berhenti sejenak di jalan raya Dieng, tepat di landmark populer Dieng, yang ada tulisan besar "Dieng", dekat jalan masuk candi Arjuna. Saya berhenti karena ada beberapa orang yang berfoto di situ. Dan rasanya saya ingin juga ber-selfie, tapi urung, karena bukan diri saya kalau begitu narsis. :haha: Di situ saya cuma memakai jaket lapis kedua untuk mengurangi terpaan hawa dingin. Tapi sayangnya sarung tangan saya tertinggal di Sleman, tangan jadi serasa lecet tapi tidak. Di situ saya juga sekalian memeriksa peta lagi.

rute google maps pranten

Dieng - Limpung - Batang - Pekalongan

Dari 3 rute yang ditawarkan (lagi-lagi) oleh maps, saya ambil lagi yang tengah. Seharusnya saya ambil rute yang kiri, tetapi karena saya ingin mampir ke Limpung, maka saya pilih rute yang kelihatannya paling cepat itu, lewat Pranten, Bawang. Saya cukup yakin karena pernah dengar kalau jalan di situ sudah bagus, sudah dicor.

jalan rusak pranten

Tapi, begitu saya masuk ke arah Pranten itu, saya langsung dihadapkan pada kenyataan yang mencengangkan. Saya disambut oleh jalan yang rusak parah, sangat tidak layak untuk dilewati. Tapi karena di depan saya ada Hilux yang juga masuk ke jalan tersebut, saya jadi cukup tenang untuk terus maju. Toh mungkin cuma sedikit saja yang rusak, pikir saya.

Tapi ternyata setelah setengah jam berkutat dengan jalan berbatu itu, tampaknya belum ada secercah harapan untuk mendapatkan jalan yang lurus. Oh iya, ngomong-ngomong, sejak dari Sleman sampai Dieng, bisa dikatakan jalan-jalan yang saya lewati sangat bagus dan mulus. Hingga sampai pada satu titik, saya menemukan rambu petunjuk.

jalan pranten ditutup

Saya berhenti sebentar dan merenungi, apakah kiranya saya salah jalan? Bukankah sepertinya saya pernah lewat sini? Dan bukankah dulu jalannya tidak seperti ini? Dan beberapa pertanyaan datang silih berganti. Salah satunya saat saya menjumpai beberapa kids zaman now anak-anak kecil yang bermain sepeda dengan riangnya di jalan yang rusak itu. Bagaimana bisa mereka mendapatkan kebahagiaan dalam kesusahan seperti itu.

anak-anak desa pranten

Kemudian setelah beberapa lama, ada penduduk setempat yang lewat, dan langsung saya tanya apakah benar ini jalan menuju Bawang. Dan memang benar itulah jalannya, saya tidak salah jalan. Dan salah ingat kalau pernah lewat jalur itu, karena sebelumnya saya lewat rute yang ditawarkan google tadi yang kiri, lewat Batur.

Dengan ketetapan hati, saya meneruskan perjuangan melewati jalanan berbatu yang terjal itu. Meski tertatih-tatih, meski hampir terjatuh dan meski ku tak tahu sampai kapan cobaan itu akan berakhir. :haha: Cukup lama juga saya berada di jalan yang berbatu itu. Di jalan, saya menjumpai sepasang bapak dan ibu. Saya bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah jalan, dan apakah jalan itu memang lama rusak atau mungkin tergerus oleh hujan belum lama. Dan kata ibu itu, ternyata memang telah bertahun-tahun jalan itu demikian adanya. Jadi, fixed, saya belum pernah lewat situ.

Tak jauh setelah itu, saya melewati sebuah tempat dengan atap-atap yang bagus, tapi tidak begitu jelas tempat apa itu karena saat itu penuh kabut. Saya begitu takjub saat membaca plang nama "SMP N 4 Bawang"2. Saya hanya tak habis pikir, bagaimana bisa para siswa dan guru setiap harinya melewati jalan yang benar-benar rusak seperti itu. Ataukah mungkin sekolah itu sudah tak terpakai? Karena hari itu Sabtu, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan sekolah. Tapi mungkin karena sudah siang sih, orang-orang sudah pulang.

...

Dan akhirnya saya sampai di perbatasan jalan yang sudah dicor. Alhamdulillah. Tapi ternyata jalan cor itu tidak jauh, dan masih terdapat beberapa tumpukan material di sisi jalan. Bahkan ada bagian yang sepertinya mangkrak, ditinggalkan begitu saja, karena jalannya juga belum tuntas. Mana tidak ada orang lain yang lewat pula, jadi terasa agak horor. Beberapa saat menyusuri jalanan sepi itu, saya sampai di satu bagian jalan yang ternyata masih digarap oleh beberapa pekerja.

Saat melewati bagian itu adalah fase yang menegangkan. Karena ruas jalan sepenuhnya sedang dikerjakan, maka saya lewat pinggiran yang masih berupa tanah. Tanah yang becek dan licin, serta terjal! Saya sempat ambruk saat menahan motor agar tidak meluncur bebas ke bawah. Motor juga sempat mandek karena roda belakang tertahan oleh batu. Untungnya salah satu pekerja membantu saya meloloskan motor yang terjebak itu. Bagian yang paling mendebarkan adalah saat sampai di akhir proyek jalan itu, yang pinggirannya jurang! Saya berusaha melewati titian kayu yang ada sehati-hati mungkin agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, saya selamat.

...

Dari situ, jalanan sudah dicor semua sampai Bawang. Tapi tetap saja saya harus waspada dan tidak bisa lengah, karena jalanan licin dan menurun sangat terjal. Rem depan-belakang seperti kurang kuat untuk menahan tarikan gravitasi ke bawah walaupun saya sudah begitu maksimal mencengkeram pedal rem. Pemandangan di sekeliling jalur itu juga bagus, tapi saya tidak bisa menikmatinya dengan tenang, dan juga tidak bisa memotret semuanya. Hanya ini yang bisa diambil, saat jalanan datar.

hutan pohon tinggi

Di jalur itu juga terdapat satu objek wisata, entah namanya apa. Terlihat ada sejumlah pengunjung waktu itu. Bahkan ada 2 gadis yang sedang berfoto di jalan.

...

Akhirnya sampailah saya di alun-alun Limpung sekitar pukul 14.00. Saya rehat sejenak di sana. Tak terasa kalau ternyata 6 jam hampir non-stop berkendara. Yang penting sudah sampai kampung halaman. Setelah Limpung, jalanan sudah cukup familiar. Saya tinggal mengarah ke pantura lewat Banyuputih untuk menuju Batang, atau sekalian ke Pekalongan.

...

Ternyata perjalanan seorang diri3 ini tidak membosankan seperti yang saya kira di awal. Ada pelajaran yang bisa saya ambil sebagai pengingat. Salah satunya, jangan sekali-kali mengambil jalan pintas, jika sama sekali tidak punya pengetahuan tentangnya. Dalam hal ini saya mengambil rute "tercepat" padahal saya belum pernah melewatinya. Yang menyenangkan juga adalah saya bisa menjumpai orang-orang dan daerah baru.



  1. Kabupaten Sleman termasuk dalam wilayah provinsi Yogyakarta lho. :haha: 

  2. Saya belum tahu Bawang yang masuk kabupaten mana, Batang atau Banjarnegara. Edit: ternyata memang Pranten termasuk dalam wilayah kabupaten Batang. Setelah saya search, ada satu berita yang cukup menjelaskan keadaan sekolah itu: https://news.detik.com/berita/3299483/cerita-dari-smp-terpencil-di-jateng-medannya-ekstrem-honor-guru-rp-300-ribu 

  3. Tidak saya tulis "jomblo", karena kata ini sangat tabu. :haha: 

File mentah dari tulisan ini bisa ditemukan di sini