"People are afraid to pursue their most important dreams, because they feel that they don't deserve them, or that they'll be unable to achieve them."

Jika Ketinggalan Kereta Api, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Ditulis pada tanggal 21/11/2017

author avatar

Dalam:
Ruparupa

Kait kata:
travelling transportasi kereta api

Pengalaman berharga

17.11.17 17.17 Yogyakarta (Jamnya dipas-paskan biar wow kira-kira itu).

Rencana pulang ke Pekalongan kali itu naik kereta ekonomi Brantas dari Stasiun Jebres Solo. Kereta itu berangkat pukul 18.35 menurut jadwal. Sedangkan dari Jogjanya, direncanakan berangkat dari stasiun Tugu Jogja jam 17.02 naik kereta Prameks (Prambanan Ekspres). Dari posisi saya menuju ke sana, menurut Google Maps, 19 menit saja kalau naik Go-Jek. Saya minta diantar teman naik motor, lumayan hemat 16 ribu kalau daripada pakai Go-Jek, dalam cuaca gerimis syahdu. Sampai stasiun Tugu 30 menitan. Soalnya kami mampir ke ATM dulu, dan yang pasti mungkin Google khilaf menghitung waktu tempuh. Maklum, newbie ini, belum bisa meng-estimasi jarak dan waktu tempuh yang riil. Dan kesalahan terbesarnya adalah terlalu percaya sama mbah Google daripada teman sendiri, karena saya malah belum tanya ke teman berapa lama waktu tempuh ke stasiun Tugu. Maafkeun aing, sob. _/\_

Sesampainya di loket stasiun Tugu, saya berharap, dalam detik-detik terakhir itu semoga masih ada sebongkah harapan bahwa tiket masih tersisa untukku, walau satu saja. Dan akhir dari harapan itu sangat memilukan. Saya tidak mempertimbangkan bahwa sekitar jam 17.00 adalah waktu puncak saat orang-orang bermobilisasi dari rutinitas harian menuju peraduan (halah, ribet banget mau bilang "pulang kerja atau sebagainya"). Sudah jelaslah bahwa amat sangat begitu sungguh mustahil di detik-detik terakhir seperti itu masih tersisa tiket kereta, yang begitu saya sampai di stasiun, ia juga tiba secara bersamaan (cie... jodoh nih seharusnya... tapi... ah sudahlah). Ditambah lagi, saya salah masuk loket! Tiket kereta komuter Prameks ada di seberang selatan stasiun, yang mana untuk ke sana, saya harus balik memutar ke pintu masuk stasiun Tugu yang ada tulisannya besar warna merah "Yogyakarta" itu, kemudian menyeberangi rel1, dan mengarah lagi ke Pasar Kembang2.

Perjalanan singkat itu ternyata cukup menguras tenaga dan tentunya WAKTU. Sampai di loket selatan jam 16.52 (kurang lebih). Sedangkan yang lebih menyedihkan, antrian pembeli tiket mengular begitu panjaaaaang. Sudah sangat amat jelas sekali bahwa sungguh begitu mustahil untuk mendapatkan tiket kereta yang berangkat jam 17.02 dan sampai di Solo Balapan jam 18.10 itu. Dan yang lebih menusuk hati, hangus pulalah tiket kereta Brantas dari Jebres ke Pekalongan yang sudah saya bayar. Lebih getir lagi, apakah kiranya ada sisa kursi, sembarang, kereta ekonomi saja, yang hari ini, malam ini juga menuju Pekalongan atau Jakarta dari stasiun Jebres? Karena apa? Karena kereta ekonomi selalu penuh, dan tiket selalu habis. Tentu saja ada kereta bisnis atau eksekutif. Tapi saya memilih yang ekonomi, karena saya anak ekonomi. B-)

Karena saya pantang menyerah, maka saya terus berdoa memohon ampun atas segala dosa. Ah... apa hubungannya...

Kemudian jadi teringat tentang pembatalan tiket kereta sewaktu googling tentang pengalaman orang lain naik kereta api. Di sebelah loket pembelian tiket, ada ruangan ber-AC yang merupakan ruang customer service. Langsung saja saya masuk ke dalam, tapi bingung mau tanya siapa. Dan kemudian ada kesempatan saat seorang mbak cs duduk sendirian... (di balik meja kerjanya dong). Tanpa basa basi, to the point saya langsung curhat. Awalnya dia begitu ramah saat saya menyapanya dengan santun, "Sore mbak". Sejurus kemudian dia begitu jutek, dikarenakan sikap dan tutur kata saya yang katrok dan kampungannn.. (bacanya dengan nadanya mas stand-up comedian terkenal itu)3. Ternyata keadaan saat itu juga sangat genting untuk membatalkan atau menukar kereta. Saya hanya diberi waktu satu jam menit sebelum kereta berangkat untuk menandatangani surat pemesanan kereta (atau pembatalan, atau penukaran, saya asal nulis data diri cepat-cepat, karena disuruh cepat, dan tidak sempat membaca apa maksud surat tsb). Padahal saya yakin bahwa menurut situs resmi KAI, pembatalan paling lambat 30 menit lho.

Si mbaknya begitu sigap menangani konsumen tengil newbie seperti ini. Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, saya disuruh langsung ke loket pembayaran untuk membayar tiket kereta ganti (ekonomi) yang syukurlah tersisa satu kursi, SATU SAJA. Dan itu waktunya sangat mepet, genting, gawat.

Di loket itu, saya agak terkejut, karena harus membayar sedikit lebih mahal dari perkiraan ngasal saya. Sebagai informasi, pembatalan tiket kereta api dipotong 25% dari harga tiket, dan bisa refund sampai dengan 30 hari. Saya masih kurang ngeh dengan biaya tambahan tadi. Jadi, mari coba hitung bersama. Tiket Brantas ke Pekalongan (atau ke Jakarta sama saja), 84 ribu. Jika dipotong 25%-nya, yaitu 21 ribu, berarti sisa refund tiket saya adalah 63 ribu. Sedangkan harga tiket kereta ganti tadi 109 rb. Oh iya betul juga ya... hahaha.

Oke lah, berarti benar kalau saya harus membayar 46 ribu sebagai kekurangan bayar tiket kereta Matarmaja.

loket prameks

Karena sudah ikhlas tidak mendapatkan tiket kereta prameks yang berangkat jam 17.02, maka saya merilekskan diri sejenak, karena toh kereta berikutnya masih lama, begitu pikir saya. Oya, itu kereta komuter yang berangkat tiap sejam. Jadi, kereta selanjutnya setelah berangkat jam 17.02 adalah yang berangkat sekitar pukul 18.00 atau 19.00 atau 20.00. Maka saya dengan santai ikut mengantre di loket pembelian tiket yang sudah memendek dan sempat-sempatnya mengambil foto, yang lupa flash nya nyala.. wkwkwk. Saya agak curiga dengan antrian yang berkurang. Mungkin semacam intuisi atau firasat.

Dan benar saja. Setelah tersisa 5 orang di depan saya, mas kasir loket mengumumkan bahwa tiket prameks yang berangkat jam 20.00 sudah habis. Artinya apa? Artinya tidak ada harapan untuk naik prameks yang murah meriah. Karena kereta yang berangkat jam 20.00 adalah kereta terakhir untuk hari ini. Tapi masnya mengasih solusi atas ketidaknyamanan itu, yaitu membeli tiket kereta ekonomi Wijayakusuma yang juga menuju Solo Balapan. Harganya 40 ribu 'saja'. Ah, budgetku sudah cukup membludak untuk mengganti kereta tadi. Mungkin ada alternatif angkutan umum yang lebih murah, barangkali. Begitu yang saya pikirkan. Tanya-tanya Mbah Google, ongkos bus ke Solo misalnya, sekitar 50 ribuan. Yowes, kereta sajalah kalau begitu.

Wijayakusuma berangkat jam 18.10, yang saya kira masih lama. Dan sampai di stasiun Balapan jam 19.13, menurut jadwal. Keretanya bagus walaupun kelas ekonomi. Ada AC, TV, kursinya 2-2, tidak berhadapan seperti Brantas.

...

Dan akhirnya, di sinilah saya saat menulis pengalaman naik kereta api tadi. Di pasar legi Solo, sebuah pasar tradisional yang buka sampai malam. Atau mungkin memang bukanya malam sih.

Di Stasiun

Oke, anggap saja saya sudah sampai di Jebres, tanpa mengisahkan perjalanan kaki yang sebenarnya cukup asyik juga. Di Jebres masih pukul 10-an malam sewaktu saya sampai. Bangunan stasiun tergolong kecil, tidak ramai, dan bahkan pintu masuk peron belum dibuka. Jadilah saya menunggu kedatangan kereta di ruang tunggu di luar. Rencananya sambil baca buku atau lanjut nulis posting ini, tapi berhubung batere laptop habis, ya sudah, baca saja.

Belum sempat mengambil buku, karena beberapa menit setelah duduk, buka-buka Whatsapp dulu, barangkali ada pesan. Datanglah seorang bapak yang duduk di sebelah saya, di antara saya dan seorang ibu, yang sudah dari sebelum saya datang beliau duduk di situ, mungkin --pastinya-- istrinya bapak itu. Beliau menyapa saya duluan, dan kemudian basa-basi sedikit, yang saya tanggapi dengan mencoba seramah mungkin. Perbicangan mbeleber ke mana-mana dari hanya sekedar "Mau ke mana, mas?", sampai ke masalah pribadi saya. Ah, saya selalu mudah terpancing untuk curcol. Untung tidak sampai cerita soal jodoh. hehehe

stasiun solo jebres

Kemudian perbincangan semakin seru karena saya terlanjur keceplosan memberitahukan identitas asli saya. Ibu itu bertanya tentang ekonomi syariah --jurusan saya, yaitu apalagi kalau bukan soal perbedaan riba dan bagi hasil. Sebuah isu klasik yang mengemuka jika dihadapkan pada istilah ekonomi syariah. Saya jawab saja sekenanya, maksudnya sepenangkapan saya selama ini dan dari buku yang tadi belum sempat saya ambil. Di buku itu "kebetulan" dibahas soal fundamental ekonomi Islam.

Saya merasa, pertanyaan beliau seolah-olah hanya mengetes saya saja. :D Dari aura keduanya, saya yakin mereka orang berpendidikan, walaupun saya tidak berani bertanya soal pribadi mereka, bahkan nama. :D Saya hanya bertanya dalam rangka apa mereka melakukan perjalanan ke Jawa Timur, menggunakan kereta yang sama dengan saya, hanya arahnya berlawanan. Dan jadwal keberangkatan saya jam 00.10, sedangkan kereta mereka pukul 01.00. Dan, pertanyaan itu tidak dijawab dengan terus terang. :D Bapak itu hanya memberi clue ada pertemuan dengan anak-anak mereka yang berangkat dari Jakarta dan kota lain, sepemahaman saya begitu.

Ngomong-ngomong soal Jakarta, yang menarik, mereka juga mengenal sosok pak Syafii Antonio, seorang penggiat perekonomian syariah di Indonesia. "Kebetulan" sekali, saya juga sudah lama ngefans terhadap beliau --atau entah apa kata yang lebih tepat. Dari situ saya mengambil kesimpulan, pastilah mereka orang berpendidikan, dan yang pasti anak-anak mereka juga berpendidikan tinggi.

...

Hingga akhirnya tibalah waktu untuk berpisah, karena setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Halah, jadi baper. Sebenarnya cuma pintu masuk peron sudah dibuka, kira-kira jam 23.00. Itu pun saya tahu dari ibu yang berbincang dengan saya tadi. Kalau saya baper, saya beranggapan bahwa beliau memberi kode agar saya segera masuk, dan sudah cukup ngobrolnya. Hehehe, ndak bu, pak, saya ndak kepikiran begitu kok. Pamitan saya berantakan. Kata-kata saya tidak pas. Ah, perfeksionis. Tapi bapak dan ibu tadi tetap menjawab dengan ramah dan mendoakan semoga selamat di perjalanan. Dan saya lupa mendoakan balik. :( Jika bapak dan ibu --dengan segala "kebetulan" yang indah-- membaca tulisan saya ini, saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya, dan semoga bapak dan ibu senantiasa diberi kesehatan. Barangkali kita bisa bersua kembali di suatu hari.

Pulang

Akhirnya, melewati pukul 12 malam, kereta yang dinantikan tiba. Saya dapat kursi yang sudah ditempati 2 orang wanita dari asal kereta.4 Dan mereka ternyata turun di Semarang Tawang. Lumayan sekali, kursi sebelah saya kosong sampai Pekalongan. Bisa buat tiduran. :D

Kereta Matarmaja sampai di Pekalongan tepat waktu subuh. Dan saya lupa satu hal: saya belum mengabari sang penjemput! Ah, dia pasti masih tidur. Keluar dari stasiun, saya langsung meneleponnya, dan syukurlah dia mau bangun. :D Di jalanan saya sudah melihat beberapa mas-mas Go-Jek yang mangkal agak jauh dari stasiun. Mengingatkan saya tentang daerah terlarang untuk penjemputan dan penurunan penumpang Gojek di stasiun Tugu. Berarti di situ juga ada clash antara Gojek dan ojek tradisional.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, sang penjemput tiba --daripada naik Gojek lumayan mahal soalnya rumah saya jauh. :D Dan mentari pagi di ufuk timur menyambut kami dengan senyuman indahnya kala itu. :)

...

Dan sebagai bonusnya sejumlah pelajaran dan kesadaran telah meresap ke dalam sanubariku.



  1. Saat itu karena belum begitu hafal Jogja, saya belum menyadari kalau seandainya saya menyeberangi rel dan berjalan lurus, saya akan memasuki kawasan jalan Malioboro. Juga waktu itu saya terlalu fokus dengan tiket kereta sih, jadi tidak menghiraukan keadaan lingkungan sehingga sama sekali tidak melihat plang tulisan jalan Malioboro. Yang saya ingat hanya keramaian yang tidak biasa, saya kira itu tempat lain di Jogja yang juga ramai dikunjungi orang-orang. 

  2. Waktu itu saya sama sekali belum sadar (baca juga footnote pertama) kalau pasar Kembang itu adalah si pasar Kembang yang terkenal itu. Saya hanya mengartikan secara harfiah saja saat diberi tahu security di mana letak loket kereta Prameks, juga saat pertama kalinya saya naik Go-Jek di sebelah barat Stasiun Tugu beberapa waktu lalu dan diberitahu mas driver batas daerah yang diperbolehkan mengambil atau menurunkan penumpang di sekitaran Tugu. Saya pikir di situ memang sebuah pasar tempat orang-orang menjual kembang atau bunga. Tapi memang anehnya, saat saya melewati daerah itu, saya tidak menjumpai tempat yang khas seperti layaknya pasar. Aneh, pikir saya. 

  3. Dodit Mulyanto, stand up comedian yang tersohor itu. 

  4. Malang, mungkin. 

File mentah dari tulisan ini bisa ditemukan di sini