Pengalaman pertama pantas dibagikan

Biasanya kita (apa cuma saya?) heboh kalau melakukan/mendapatkan hal-hal baru. Ya termasuk belakangan ini di blog ini begitu heboh berisi tulisan-tulisan tentang cinta, apalah itu. Ya karena itu adalah, anu… Dan kita (apa cuma saya?) cenderung heboh juga ingin segera pamer, eh share kepada orang lain tentang hal-hal baru itu.

Ini saya cuma mau pamer eh, share pengalaman pertama “beli” lagu secara legal di MelOn. Bayarnya cuma 3 ribu sih. hehe… Tetapi cuma sehari. Yang penting bisa mendengarkan mbak Yoshioka Kiyoe Ikimonogakari membasahi hati ini dengan syair-syair indahnya dari album terbaru Chou Ikimonobakari Tennen Kinen Members Best Selection… aah… syahdu

Kompartementalisasi hati

Bukan hidup namanya kalau selalu baik-baik saja. Banyak hal yang harus dikerjakan, diraih, diperjuangkan, hingga terpaksa direlakan. Akan ada momen ‘jatuh bangun’ yang harus kita lewati. Mungkin saat ini kamu sedang sibuk mengurus skripsi, bergulat dengan tugas-tugas kantor, berjuang memapankan kondisi finansial, hingga merencakan pernikahan dan masa depan.Lalu, bagaimana cara mengatasi tekanan dan tantangan yang selalu mampir di hidup kita? Bagaimana harus berjibaku dengan berbagai hal yang sepertinya datang secara bersamaan? Ternyata, ada satu solusi untuk mengatasi semuanya: kompartementalisasi.

Pada posting sebelum sebelumnya, pernah saya singgung sedikit tentang kompartementalisasi. Nah, barusan saya Duckduckgoing, hasil teratas adalah tulisan dari Hipwee berikut ini. Check it out!

Sumber: Mikirin Kuliah, Pekerjaan, Sampai Rencana Nikah? Ini Caranya Supaya Hidupmu Lebih Terarah!

Humor yang aman itu menertawakan diri sendiri

Ya, seharusnya begitu. Dengan menertawakan diri sendiri, tak ada yang terluka. Tapi di sisi lain, tentunya ada saja yang gagal paham hingga baper, mengira kita menertawakan orang yang merasa. Kalau sudah begitu, mau bagaimana lagi. Sudah, kita harus berhenti bergurau. Wahai dunia, maafkan aku yang terlalu sering menertawakanmu. Kini jika kau mau membalasku dengan menertawakanku, aku rela kau tertawakan.

Humor adalah menertawakan apa yang tidak kau miliki, ketika kau harus memilikinya

Langston Hughes

Satu dalih buatku yang sering menertawakan apa yang tidak kumiliki. Seperti “jomblo”, yang tidak memiliki pasangan, padahal seharusnya memiliki.

Perlu dibedakan antara menertawakan diri sendiri dengan merendahkan diri sendiri. Jika kita melucu dengan membawa-bawa kesalahan masa lalu, itu bukan yang dimaksudkan. Itu hanya membuka aib masa lalu yang seharusnya sudah terkubur oleh waktu. Orang yang mendengarnya justru menjadi kurang respek.

Facebook lagi, facebook lagi

Hmm, mungkin saking cintanya sama facebook, sampai saya sebut-sebut dia terus. Facebook lagi, facebook lagi… Seperti lagunya Justice Voice.

Seperti yang sudah saya tulis beberapa waktu lalu, saya sudah tidak bisa berfacebook ria di akun utama^1. Rasanya seperti ada yang kurang gitu, tapi di sisi lain, saya punya waktu luang untuk kegiatan lain. Maksudnya browsing situs lain, atau blogging di sini. Lihat saja, sebulan terakhir ini saya sangat rutin menerbitkan posting.

Coba lihat, berapa kali saya sebut facebook di blog ini

Nah, seperti biasa, saya tersesat di jagat maya saat… emm, ngapain tadi ya?! Pokoknya tahu-tahu sampai di sebuah laman yang membahas tentang privasi pengguna facebook. Judul tulisan itu “What should you think about when using facebook?“. Link ada di bawah, bacalah terus sampai habis^2. Pokok bahasannya tentang data yang dikumpulkan oleh facebook dari para “pengguna”. Ya, kata ini saya beri tanda kutip, karena sebenarnya kita bukan pengguna. Kenapa?

Kita bukan pengguna

We are social animals, and we are wired to want to connect, want approval, want to share, and want to organize on the platform where everyone else is, and this, for now, is in Facebook’s advantage. Additionally, it’s hard to say that Facebook is all bad: it does connect people, it has helped organize meetups and events, and it does make the world more interconnected.

But, as Facebook’s users, we and our data are its product. And, as we understand more about how this data is being used, we can still play on Facebook’s playground, by its rules, but be a little smarter about it.

— Vicki Boykis

“Kita adalah makhluk sosial, dan kita terkait karena ingin berhubungan, ingin diterima, ingin berbagi, dan ingin mengorganisir pada platform di mana ada orang lain, dan inilah, untuk saat ini, ada pada manfaat facebook. Selain itu, sulit mengatakan bahwa facebook itu buruk: ia menghubungkan orang-orang, ia membantu mengorganisir pertemuan dan acara, dan ia membuat dunia lebih saling terhubung.

“Tetapi, sebagai pengguna facebook, kita dan data kita adalah produknya. Dan, sebagaimana kita pahami lebih jauh tentang bagaimana data ini digunakan, kita masih bisa bermain di tempat bermain facebook, dengan peraturan-peraturannya, tetapi jadilah lebih cerdas tentang itu.”

Jadi, intinya kita dan termasuk data-data kita itu adalah produk facebook itu sendiri. Coba pikirkan, kita itu tidak membayar mereka. Apakah mereka betul-betul tidak mengharapkan sesuatu dari kita? Ya mungkin paling banter mereka menayangkan iklan untuk pendapatan mereka. Tapi benarkah hanya sejauh itu? Menayangkan iklan yang sebagian penggunanya memilih untuk tidak menampilkannya dengan adblocker?

Coba pikirkan. Bacalah dulu sumber tulisan di atas (link di bawah). Mereka begitu detilnya mengumpulkan data tentang kita. Oke mungkin pembaca tidak terpengaruh sedikit pun dan tidak peduli status-status, foto-foto, video-videonya mau diapakan. Tapi bayangkan, sekian milyar “pengguna” facebook, berpikiran sama seperti anda: tak peduli, tak mau tahu, tak tahu. Bagaimana jika data-data kita itu dijual untuk perusahaan asuransi misalnya? Dan tiba-tiba kita ditawari produk asuransi oleh perusahaan X. Maka jangan kaget.

Dengan tidak bisa berfacebook ria, itu adalah satu langkah bagus untuk lepas darinya sedikit demi sedikit. Langkah selanjutnya mungkin akan lebih susah: uninstall whatsapp dan messenger, serta lepas total dari facebook. Whatsapp yang juga keluarga facebook, masih demikian populernya, dan bahkan tempat kerja saya sekarang menggunakannya untuk koordinasi tim. Messenger masih saya pakai untuk berkirim pesan kepada teman yang masih betah di facebook. Iya, saya pakai password aplikasi messenger sebelum mengganti password utama facebook hingga tidak bisa login lagi. Kemudian jika berlepas total dari facebook, untuk saat ini rasanya belum bisa. Mungkin belum ada alternatif lain yang sepadan untuk beriklan dengan target yang begitu terarah selain facebook. Ya, dengan data dari “pengguna” yang berjumlah milyaran, mereka menjualnya menjadi jasa iklan dengan audiens yang betul-betul tepat, menurut mereka.

***

^1: ya, saya masih punya akun bayangan, tapi tidak saya gunakan untuk interaksi dengan kenalan

^2: https://veekaybee.github.io/facebook-is-collecting-this/

Loving You: Merit Yuk

Eh, enggak, enggak, aku enggak ngajak kamu merit. Itu hanya judul buku yang sempat berhenti kubaca. Berikut ini cuplikan ulasan saya di Goodreads. Kalau mau baca bukunya, boleh pinjam aku kok. 🙊

Loving You: Merit Yuk!Loving You: Merit Yuk! by O. Solihin

My rating: 4 of 5 stars

Sangat bermanfaat untuk kita yang sedang berupaya untuk menuju masa depan bersama separuh agama. ehm…

Pembahasan sangat komplit dari definisi cinta sampai penanganan konflik dalam rumah tangga setelah menikah. Merit yuk!

View all my reviews