Shigatsu wa Kimi no Uso, a sort of review

Pas nih, bulan April, seperti judul anime Shigatsu wa kimi no uso, yang dalam bahasa Jawa: Cidramu ing wulan April. 😀 Dalam bahasa Indonesia: Dustamu pada bulan April. Saya bukan ahli review, maka jika tulisan ini tidak sesuai dengan kaidah ulasan yang baik, harap jangan diambil hati. Saya juga bukan penggemar anime fanatik, maka saya merasa tidak perlu menghafal tokoh-tokoh beserta perwatakan dalam anime satu persatu sampai detail. Saya hanya otodidak yang numpang belajar bahasa Jepang dari anime.

Saya awali dengan sejarah atau awal mula tahu judul anime tersebut. Sekitar bulan apa ya… Pokoknya paruh akhir tahun lalu, saya tidak sengaja menonton Imagine-nation di NHK World, tayang setiap selasa malam pukul 22.30. Eh malam ini ada ya… Waktu itu si mbak Chiaki Horan dan temannya mengasih preview sebuah anime baru yang berjudul seperti di atas. Menurut artikel di Wikipedia [^1], Shigatsu wa kimi no uso tayang sejak 9 Oktober tahun lalu, dengan jumlah episode 22. Dan episode terakhir tayang pada akhir Februari lalu.

Lalu, kenapa saya tertarik dengan anime ini, bahkan menonton [^2] sampai tamat? Pertama, karena pembahasan yang menarik oleh imagine-nation. Acara tersebut menampilkan figur-figur di balik layar anime tersebut [^3]. Juga sekelumit proses pembuatannya. Pokoknya hebatlah menurut saya. Tidak heran hasil produksi sangat bagus. Itulah alasan kedua, yaitu gambarnya yang ‘hidup’ atau kata saya: modern. Teknologi animasi (Jepang) semakin berkembang, termasuk animasi 2D. Bandingkan sendiri bagaimana gambar anime pada tahun 90-an dengan yang ada sekarang. Jauh ya… 😀

Sedangkan alasan terakhir, judulnya mengundang penasaran. Sebenarnya siapa yang berdusta? Semuanya terungkap pada episode terakhir.

Walaupun secara animasi, Shigatsu termasuk standar anime saat ini, dia punya keunggulan pada detil penggambaran piano yang mirip gambar 3D. Sang sutradara menjelaskan (pada preview di imagine-nation), dan ditampilkan tayangannya, pembuatan scene pemain piano menggunakan seorang model pianis sungguhan yang direkam pergerakannya dari berbagai sudut. Dan kemudian sang sutradara mendapat inspirasi dari video-video rekaman tersebut, termasuk model violinis, bagaimana menggambarkan secara visual 2D. Dan dia juga dibantu oleh animator 3D yang memvisualkan bagaimana gerakan jari-jemari sang pianis saat menyentuh tuts, dan tampilan bayangan pada bagian piano yang mengkilap.

Lihat sendiri trailer Shigatsu:

Dari Shigatsu, saya jadi tahu Goose House yang lagunya, Hikaru Nara menjadi lagu opening Shigatsu.

Sekarang mengenai isi cerita dan tokoh-tokoh Shigatsu. Untungnya sudah ada artikel di Wikipedia yang menjelaskannya secara cukup rinci [^1]. Maka, saya tidak perlu membahasnya di sini. Bagian saya hanya berkomentar. :

Cerita dalam Shigatsu yang ber-genre drama romance ini berkutat pada kehidupan anak SMP. Yah, di sini saya agak kurang setuju. Masa anak SMP sudah pacar-pacaran. Bagaimanapun itu bukan hal yang boleh menjadi lazim, walaupun pada praktiknya sudah jamak terjadi bahkan saat saya sendiri SMP.

Cerita yang SMP-sentrik ini sedikit menghadirkan nostalgia, walaupun jelas masa SMP saya tidak seperti dalam cerita Shigatsu. Hanya saja, mengenang masa itu begitu… ~kompleks. Saya tidak pandai musik, dan tidak paham soal musik. Saya juga tidak paham apa itu pacaran. Hanya mungkin pernah ikut-ikutan naksir-naksiran dan cuma diempet.

Yang mending sama antara saya dan Kousei, mungkin… kesendirian.

——————————————————–
[^1]: http://id.wikipedia.org/wiki/Shigatsu_wa_Kimi_no_Uso
[^2]: Sebenarnya Sigatsu tidak tayang di televisi indonesia. Lalu di mana saya menonton? Hmm, sebenarnya ini memalukan, tetapi saya harus jujur, saya download di sebuah situs.
[^3]: Shigatsu diproduksi oleh Studio animasi A-1, yang juga memproduksi anime SAO (Sword Art Online)

One Reply to “Shigatsu wa Kimi no Uso, a sort of review”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *