Saya Ingin Jadi Programmer

Menyelesaikan suatu permasalahan yang sangat sulit dengan cara yang sangat sederhana dan terkesan unik adalah kemampuan individu yang sudah menguasai logika dan algoritma sesuai bidang tersebut…

Saya awali tulisan kali ini dengan sebuah kutipan dari sebuah posting seseorang di blognya 1. Saya mendapatkannya dari forum Ubuntu Indonesia di FB.

Jadi, ada sebuah pertanyaan tentang pentingnya algoritma dan matematika bagi programmer. Pertanyaan semacam ini sudah pernah saya jumpai sebelumnya. Kalau dilihat dari jawaban-jawabannya, hampir semuanya setuju kalau programmer harus menguasai algoritma dan matematika.

Lalu, sebenarnya apa sih algoritma? Saya juga sering kehilangan makna algoritma ketika teman saya yang kuliah elektronika membahas kata ini. Padahal menurut sumber teratas dari google, 2

Algoritma adalah urutan langkah-langkah logis penyelesaian masalah yang disusun secara sistematis dan logis.

Cuma itukah? Tampaknya kutipan tersebut sudah menggambarkan dengan jelas apa itu algoritma.  Dan menurut tulisan yang memuatnya, algoritma adalah bagian dari program komputer. Maka benarlah jika dikatakan bahwa programmer harus menguasai algoritma.

Ngomong-ngomong, saya sudah sering bercerita kalau saya sedang belajar pemrograman (otodidak). Dan itu sudah sejak lama. Tapi saya merasa belum ada apa-apanya sampai saat ini. Apalagi, kalau memperhatikan kutipan yang pertama, bahwa ahli algoritma bisa memecahkan masalah yang rumit dengan cara yang sederhana.

Saya mau sedikit bercerita, yang sebenarnya sudah saya simpan sejak lama. Kebetulan saya pernah ikut tes interview sebuah perusahaan startup, jadi junior programmer Python. Salah satu tes keahliannya adalah memecahkan soal yang diberikan, yaitu mencari bilangan terkecil dan terbesar dari suatu matriks, dengan bahasa pemrograman apapun, dalam baris kode dan tempo yang sesingkat-singkatnya. Wah, luar biasa, padahal saya baru bisa echo atau array_merge dalam PHP! Jadi, saya jawab soal tersebut dengan kemampuan seadanya dan dalam kode yang mbleber serta rampung terlama. Dan kalau benar-benar dijadikan file PHP, pasti cuma menghasilkan error. Pengalaman yang sangat berharga. Walaupun saya tidak lolos tes tersebut. Tapi waktu itu saya justru semakin ingin mempelajari Python. Sayangnya tidak sampai lama belajar, sudah berhenti, atau ditunda dulu. Inginnya fokus satu bahasa dulu, entah PHP atau Qt C++. Dan sampai sekarang saya masih menimbang-nimbang mana yang harus didahulukan.

Semoga saja keinginan saya terwujud, entah dalam waktu dekat atau lama.


2 Replies to “Saya Ingin Jadi Programmer”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *