"And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it."

21/01/2018

travelling perjalanan

Yogyakarta - Dieng 3 Jam

Ingin mencoba rute Jogja-Batang selain yang biasanya melalui Temanggung, kali ini saya nekat memberanikan diri lewat Dieng! Selain karena ingin mencoba hal rute baru (dan melihat daerah baru), saya juga agak kangen Dieng. Liburan semester kemarin, saya diajak teman-teman yang mengadakan piknik ke Dieng, bertepatan dengan acara Dieng Cultural Festival, nah sedangkan semester ini tidak ada yang menginisiasi acara liburan. Semacam kurang piknik, gitu. Saya tidak mau menginisiasi, karena pada dasarnya saya bukan ahlul piknik. :haha:

Kalau menurut mbah Google, perkiraan total waktu tempuh kurang lebih 5 jam, lebih lama 1 jam daripada rute biasa lewat Parakan. Tapi perjalanan saya itu tidak sesuai ekspektasi yang ditawarkan Google. Saya menempuh perjalanan itu selama 6 jam lebih! Nah itulah yang akan saya ceritakan, kenapa bisa begitu. Awalnya saya mengira bahwa perjalanan ini akan membosankan, tidak seperti pada kesempatan naik kereta yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya. Tapi bagaimanapun, ada sekelumit pelajaran yang bisa saya ambil dari perjalanan kali ini.

pilihan rute jogja-dieng

Di google Maps, ada 3 pilihan rute menuju Dieng dari arah Jogja (lihat gambar di atas). Biasanya rute yang disarankan google adalah rute yang paling atas, lewat Parakan lalu Muntung. Saya tidak memilihnya karena sampai Parakan saja sudah separuh rute biasa. Kan ini temanya mencoba hal baru, makanya pilihannya tinggal 2: lewat Borobudur atau Purworejo. Rute Purworejo tidak saya pilih karena waktu tempuh yang lebih lama.

Perjalanan start dari Sleman1 pukul 08.04 melalui jalan Magelang, masih jalan yang biasa saya lewati. Diiringi hujan rintik-rintik. Kurang lebih 30 menit, belok kiri ke arah objek wisata Borobudur, terus menyusuri jalan ke Purworejo. Terus saja ikuti jalan itu sampai berkilo-kilo (gak saya hitung lah :haha: ) sampai ada persimpangan. Ada rambu penunjuk jalan, tapi saya terlalu attached-nya ke google, saya abaikan tulisan Wonosobo yang mengarahkan untuk belok kanan. Yang membuat saya kurang yakin adalah karena pertigaannya "kurang meyakinkan" untuk sebuah persimpangan yang menghubungkan dua kota. Persimpangan itu tidak cukup besar menurut saya, dan berada di jalur yang menanjak, serta ada petugas parkir yang mengatur lalu lintas, seperti yang biasa saya temui di banyak persimpangan kecil di Jogja.

Dengan mengalahkan ego dan mempertanyakan keyakinan, saya berhenti sejenak untuk memastikan rute google maps. Dan ternyata benar, itulah persimpangan di mana seharusnya saya belok kanan untuk menuju Wonosobo. Untung saja belum terlalu jauh, karena kalau saya terus lurus, akan sampai ke Purworejo. Sampai di situ sudah tidak hujan.

Sampai Wonosobo kurang lebih pukul 11-an, atau dari Borobudur 1 jam lebih. Semenjak dari Borobudur, saya tidak bisa ngebut selain karena jalan licin, juga karena ban belakang sedang cedera. Sebelum mencapai Wonosobo kota, saya berhenti sebentar di SPBU Kertek. Dan sebelum itu juga, saya menjumpai ada operasi lalu lintas. Saya agak was-was karena plat nomor belakang tidak ada, jatuh entah di mana di Jogja. Tapi karena surat-surat lengkap, saya pede saja dan mencoba menutupi muka panik, akhirnya saya lolos dengan selamat dari operasi itu. :haha:

Kota Wonosobo itu cantik. Dikelilingi gunung-gunung, pemandangan di sana cukup memanjakan indera penglihatan saya. Walaupun cuma lewat, rasanya cukup terhibur hati ini.

gapura selamat datang dieng

Untuk mengejar waktu, saya terus saja melaju, walaupun sebenarnya cukup capek, karena berarti sejak dari Sleman, selama 3 jam hampir tidak istirahat! :wow: Akhirnya saya sampai di kawasan Dieng sebelum pukul 12 siang. Di jalanan itu suhu udara semakin menurun, saya merasa semakin dingin. Pemandangan yang tampak di pinggiran jalan sungguh memesona, menentramkan. Rasa capek berkendara dan dinginnya udara terbayarkan oleh keindahan itu.

Saya berhenti sejenak di jalan raya Dieng, tepat di landmark populer Dieng, yang ada tulisan besar "Dieng", dekat jalan masuk candi Arjuna. Saya berhenti karena ada beberapa orang yang berfoto di situ. Dan rasanya saya ingin juga ber-selfie, tapi urung, karena bukan diri saya kalau begitu narsis. :haha: Di situ saya cuma memakai jaket lapis kedua untuk mengurangi terpaan hawa dingin. Tapi sayangnya sarung tangan saya tertinggal di Sleman, tangan jadi serasa lecet tapi tidak. Di situ saya juga sekalian memeriksa peta lagi.

rute google maps pranten

Dieng - Limpung - Batang - Pekalongan

Dari 3 rute yang ditawarkan (lagi-lagi) oleh maps, saya ambil lagi yang tengah. Seharusnya saya ambil rute yang kiri, tetapi karena saya ingin mampir ke Limpung, maka saya pilih rute yang kelihatannya paling cepat itu, lewat Pranten, Bawang. Saya cukup yakin karena pernah dengar kalau jalan di situ sudah bagus, sudah dicor.

jalan rusak pranten

Tapi, begitu saya masuk ke arah Pranten itu, saya langsung dihadapkan pada kenyataan yang mencengangkan. Saya disambut oleh jalan yang rusak parah, sangat tidak layak untuk dilewati. Tapi karena di depan saya ada Hilux yang juga masuk ke jalan tersebut, saya jadi cukup tenang untuk terus maju. Toh mungkin cuma sedikit saja yang rusak, pikir saya.

Tapi ternyata setelah setengah jam berkutat dengan jalan berbatu itu, tampaknya belum ada secercah harapan untuk mendapatkan jalan yang lurus. Oh iya, ngomong-ngomong, sejak dari Sleman sampai Dieng, bisa dikatakan jalan-jalan yang saya lewati sangat bagus dan mulus. Hingga sampai pada satu titik, saya menemukan rambu petunjuk.

jalan pranten ditutup

Saya berhenti sebentar dan merenungi, apakah kiranya saya salah jalan? Bukankah sepertinya saya pernah lewat sini? Dan bukankah dulu jalannya tidak seperti ini? Dan beberapa pertanyaan datang silih berganti. Salah satunya saat saya menjumpai beberapa kids zaman now anak-anak kecil yang bermain sepeda dengan riangnya di jalan yang rusak itu. Bagaimana bisa mereka mendapatkan kebahagiaan dalam kesusahan seperti itu.

anak-anak desa pranten

Kemudian setelah beberapa lama, ada penduduk setempat yang lewat, dan langsung saya tanya apakah benar ini jalan menuju Bawang. Dan memang benar itulah jalannya, saya tidak salah jalan. Dan salah ingat kalau pernah lewat jalur itu, karena sebelumnya saya lewat rute yang ditawarkan google tadi yang kiri, lewat Batur.

Dengan ketetapan hati, saya meneruskan perjuangan melewati jalanan berbatu yang terjal itu. Meski tertatih-tatih, meski hampir terjatuh dan meski ku tak tahu sampai kapan cobaan itu akan berakhir. :haha: Cukup lama juga saya berada di jalan yang berbatu itu. Di jalan, saya menjumpai sepasang bapak dan ibu. Saya bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa saya tidak salah jalan, dan apakah jalan itu memang lama rusak atau mungkin tergerus oleh hujan belum lama. Dan kata ibu itu, ternyata memang telah bertahun-tahun jalan itu demikian adanya. Jadi, fixed, saya belum pernah lewat situ.

Tak jauh setelah itu, saya melewati sebuah tempat dengan atap-atap yang bagus, tapi tidak begitu jelas tempat apa itu karena saat itu penuh kabut. Saya begitu takjub saat membaca plang nama "SMP N 4 Bawang"2. Saya hanya tak habis pikir, bagaimana bisa para siswa dan guru setiap harinya melewati jalan yang benar-benar rusak seperti itu. Ataukah mungkin sekolah itu sudah tak terpakai? Karena hari itu Sabtu, tetapi sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan sekolah. Tapi mungkin karena sudah siang sih, orang-orang sudah pulang.

...

Dan akhirnya saya sampai di perbatasan jalan yang sudah dicor. Alhamdulillah. Tapi ternyata jalan cor itu tidak jauh, dan masih terdapat beberapa tumpukan material di sisi jalan. Bahkan ada bagian yang sepertinya mangkrak, ditinggalkan begitu saja, karena jalannya juga belum tuntas. Mana tidak ada orang lain yang lewat pula, jadi terasa agak horor. Beberapa saat menyusuri jalanan sepi itu, saya sampai di satu bagian jalan yang ternyata masih digarap oleh beberapa pekerja.

Saat melewati bagian itu adalah fase yang menegangkan. Karena ruas jalan sepenuhnya sedang dikerjakan, maka saya lewat pinggiran yang masih berupa tanah. Tanah yang becek dan licin, serta terjal! Saya sempat ambruk saat menahan motor agar tidak meluncur bebas ke bawah. Motor juga sempat mandek karena roda belakang tertahan oleh batu. Untungnya salah satu pekerja membantu saya meloloskan motor yang terjebak itu. Bagian yang paling mendebarkan adalah saat sampai di akhir proyek jalan itu, yang pinggirannya jurang! Saya berusaha melewati titian kayu yang ada sehati-hati mungkin agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Alhamdulillah, saya selamat.

...

Dari situ, jalanan sudah dicor semua sampai Bawang. Tapi tetap saja saya harus waspada dan tidak bisa lengah, karena jalanan licin dan menurun sangat terjal. Rem depan-belakang seperti kurang kuat untuk menahan tarikan gravitasi ke bawah walaupun saya sudah begitu maksimal mencengkeram pedal rem. Pemandangan di sekeliling jalur itu juga bagus, tapi saya tidak bisa menikmatinya dengan tenang, dan juga tidak bisa memotret semuanya. Hanya ini yang bisa diambil, saat jalanan datar.

hutan pohon tinggi

Di jalur itu juga terdapat satu objek wisata, entah namanya apa. Terlihat ada sejumlah pengunjung waktu itu. Bahkan ada 2 gadis yang sedang berfoto di jalan.

...

Akhirnya sampailah saya di alun-alun Limpung sekitar pukul 14.00. Saya rehat sejenak di sana. Tak terasa kalau ternyata 6 jam hampir non-stop berkendara. Yang penting sudah sampai kampung halaman. Setelah Limpung, jalanan sudah cukup familiar. Saya tinggal mengarah ke pantura lewat Banyuputih untuk menuju Batang, atau sekalian ke Pekalongan.

...

Ternyata perjalanan seorang diri3 ini tidak membosankan seperti yang saya kira di awal. Ada pelajaran yang bisa saya ambil sebagai pengingat. Salah satunya, jangan sekali-kali mengambil jalan pintas, jika sama sekali tidak punya pengetahuan tentangnya. Dalam hal ini saya mengambil rute "tercepat" padahal saya belum pernah melewatinya. Yang menyenangkan juga adalah saya bisa menjumpai orang-orang dan daerah baru.



  1. Kabupaten Sleman termasuk dalam wilayah provinsi Yogyakarta lho. :haha: 

  2. Saya belum tahu Bawang yang masuk kabupaten mana, Batang atau Banjarnegara. Edit: ternyata memang Pranten termasuk dalam wilayah kabupaten Batang. Setelah saya search, ada satu berita yang cukup menjelaskan keadaan sekolah itu: https://news.detik.com/berita/3299483/cerita-dari-smp-terpencil-di-jateng-medannya-ekstrem-honor-guru-rp-300-ribu 

  3. Tidak saya tulis "jomblo", karena kata ini sangat tabu. :haha: 

Pengalaman berharga

17.11.17 17.17 Yogyakarta (Jamnya dipas-paskan biar wow kira-kira itu).

Rencana pulang ke Pekalongan kali itu naik kereta ekonomi Brantas dari Stasiun Jebres Solo. Kereta itu berangkat pukul 18.35 menurut jadwal. Sedangkan dari Jogjanya, direncanakan berangkat dari stasiun Tugu Jogja jam 17.02 naik kereta Prameks (Prambanan Ekspres). Dari posisi saya menuju ke sana, menurut Google Maps, 19 menit saja kalau naik Go-Jek. Saya minta diantar teman naik motor, lumayan hemat 16 ribu kalau daripada pakai Go-Jek, dalam cuaca gerimis syahdu. Sampai stasiun Tugu 30 menitan. Soalnya kami mampir ke ATM dulu, dan yang pasti mungkin Google khilaf menghitung waktu tempuh. Maklum, newbie ini, belum bisa meng-estimasi jarak dan waktu tempuh yang riil. Dan kesalahan terbesarnya adalah terlalu percaya sama mbah Google daripada teman sendiri, karena saya malah belum tanya ke teman berapa lama waktu tempuh ke stasiun Tugu. Maafkeun aing, sob. _/\_

Sesampainya di loket stasiun Tugu, saya berharap, dalam detik-detik terakhir itu semoga masih ada sebongkah harapan bahwa tiket masih tersisa untukku, walau satu saja. Dan akhir dari harapan itu sangat memilukan. Saya tidak mempertimbangkan bahwa sekitar jam 17.00 adalah waktu puncak saat orang-orang bermobilisasi dari rutinitas harian menuju peraduan (halah, ribet banget mau bilang "pulang kerja atau sebagainya"). Sudah jelaslah bahwa amat sangat begitu sungguh mustahil di detik-detik terakhir seperti itu masih tersisa tiket kereta, yang begitu saya sampai di stasiun, ia juga tiba secara bersamaan (cie... jodoh nih seharusnya... tapi... ah sudahlah). Ditambah lagi, saya salah masuk loket! Tiket kereta komuter Prameks ada di seberang selatan stasiun, yang mana untuk ke sana, saya harus balik memutar ke pintu masuk stasiun Tugu yang ada tulisannya besar warna merah "Yogyakarta" itu, kemudian menyeberangi rel1, dan mengarah lagi ke Pasar Kembang2.

Perjalanan singkat itu ternyata cukup menguras tenaga dan tentunya WAKTU. Sampai di loket selatan jam 16.52 (kurang lebih). Sedangkan yang lebih menyedihkan, antrian pembeli tiket mengular begitu panjaaaaang. Sudah sangat amat jelas sekali bahwa sungguh begitu mustahil untuk mendapatkan tiket kereta yang berangkat jam 17.02 dan sampai di Solo Balapan jam 18.10 itu. Dan yang lebih menusuk hati, hangus pulalah tiket kereta Brantas dari Jebres ke Pekalongan yang sudah saya bayar. Lebih getir lagi, apakah kiranya ada sisa kursi, sembarang, kereta ekonomi saja, yang hari ini, malam ini juga menuju Pekalongan atau Jakarta dari stasiun Jebres? Karena apa? Karena kereta ekonomi selalu penuh, dan tiket selalu habis. Tentu saja ada kereta bisnis atau eksekutif. Tapi saya memilih yang ekonomi, karena saya anak ekonomi. B-)

Karena saya pantang menyerah, maka saya terus berdoa memohon ampun atas segala dosa. Ah... apa hubungannya...

Kemudian jadi teringat tentang pembatalan tiket kereta sewaktu googling tentang pengalaman orang lain naik kereta api. Di sebelah loket pembelian tiket, ada ruangan ber-AC yang merupakan ruang customer service. Langsung saja saya masuk ke dalam, tapi bingung mau tanya siapa. Dan kemudian ada kesempatan saat seorang mbak cs duduk sendirian... (di balik meja kerjanya dong). Tanpa basa basi, to the point saya langsung curhat. Awalnya dia begitu ramah saat saya menyapanya dengan santun, "Sore mbak". Sejurus kemudian dia begitu jutek, dikarenakan sikap dan tutur kata saya yang katrok dan kampungannn.. (bacanya dengan nadanya mas stand-up comedian terkenal itu)3. Ternyata keadaan saat itu juga sangat genting untuk membatalkan atau menukar kereta. Saya hanya diberi waktu satu jam menit sebelum kereta berangkat untuk menandatangani surat pemesanan kereta (atau pembatalan, atau penukaran, saya asal nulis data diri cepat-cepat, karena disuruh cepat, dan tidak sempat membaca apa maksud surat tsb). Padahal saya yakin bahwa menurut situs resmi KAI, pembatalan paling lambat 30 menit lho.

Si mbaknya begitu sigap menangani konsumen tengil newbie seperti ini. Dalam kurun waktu kurang dari satu menit, saya disuruh langsung ke loket pembayaran untuk membayar tiket kereta ganti (ekonomi) yang syukurlah tersisa satu kursi, SATU SAJA. Dan itu waktunya sangat mepet, genting, gawat.

Di loket itu, saya agak terkejut, karena harus membayar sedikit lebih mahal dari perkiraan ngasal saya. Sebagai informasi, pembatalan tiket kereta api dipotong 25% dari harga tiket, dan bisa refund sampai dengan 30 hari. Saya masih kurang ngeh dengan biaya tambahan tadi. Jadi, mari coba hitung bersama. Tiket Brantas ke Pekalongan (atau ke Jakarta sama saja), 84 ribu. Jika dipotong 25%-nya, yaitu 21 ribu, berarti sisa refund tiket saya adalah 63 ribu. Sedangkan harga tiket kereta ganti tadi 109 rb. Oh iya betul juga ya... hahaha.

Oke lah, berarti benar kalau saya harus membayar 46 ribu sebagai kekurangan bayar tiket kereta Matarmaja.

loket prameks

Karena sudah ikhlas tidak mendapatkan tiket kereta prameks yang berangkat jam 17.02, maka saya merilekskan diri sejenak, karena toh kereta berikutnya masih lama, begitu pikir saya. Oya, itu kereta komuter yang berangkat tiap sejam. Jadi, kereta selanjutnya setelah berangkat jam 17.02 adalah yang berangkat sekitar pukul 18.00 atau 19.00 atau 20.00. Maka saya dengan santai ikut mengantre di loket pembelian tiket yang sudah memendek dan sempat-sempatnya mengambil foto, yang lupa flash nya nyala.. wkwkwk. Saya agak curiga dengan antrian yang berkurang. Mungkin semacam intuisi atau firasat.

Dan benar saja. Setelah tersisa 5 orang di depan saya, mas kasir loket mengumumkan bahwa tiket prameks yang berangkat jam 20.00 sudah habis. Artinya apa? Artinya tidak ada harapan untuk naik prameks yang murah meriah. Karena kereta yang berangkat jam 20.00 adalah kereta terakhir untuk hari ini. Tapi masnya mengasih solusi atas ketidaknyamanan itu, yaitu membeli tiket kereta ekonomi Wijayakusuma yang juga menuju Solo Balapan. Harganya 40 ribu 'saja'. Ah, budgetku sudah cukup membludak untuk mengganti kereta tadi. Mungkin ada alternatif angkutan umum yang lebih murah, barangkali. Begitu yang saya pikirkan. Tanya-tanya Mbah Google, ongkos bus ke Solo misalnya, sekitar 50 ribuan. Yowes, kereta sajalah kalau begitu.

Wijayakusuma berangkat jam 18.10, yang saya kira masih lama. Dan sampai di stasiun Balapan jam 19.13, menurut jadwal. Keretanya bagus walaupun kelas ekonomi. Ada AC, TV, kursinya 2-2, tidak berhadapan seperti Brantas.

...

Dan akhirnya, di sinilah saya saat menulis pengalaman naik kereta api tadi. Di pasar legi Solo, sebuah pasar tradisional yang buka sampai malam. Atau mungkin memang bukanya malam sih.

Di Stasiun

Oke, anggap saja saya sudah sampai di Jebres, tanpa mengisahkan perjalanan kaki yang sebenarnya cukup asyik juga. Di Jebres masih pukul 10-an malam sewaktu saya sampai. Bangunan stasiun tergolong kecil, tidak ramai, dan bahkan pintu masuk peron belum dibuka. Jadilah saya menunggu kedatangan kereta di ruang tunggu di luar. Rencananya sambil baca buku atau lanjut nulis posting ini, tapi berhubung batere laptop habis, ya sudah, baca saja.

Belum sempat mengambil buku, karena beberapa menit setelah duduk, buka-buka Whatsapp dulu, barangkali ada pesan. Datanglah seorang bapak yang duduk di sebelah saya, di antara saya dan seorang ibu, yang sudah dari sebelum saya datang beliau duduk di situ, mungkin --pastinya-- istrinya bapak itu. Beliau menyapa saya duluan, dan kemudian basa-basi sedikit, yang saya tanggapi dengan mencoba seramah mungkin. Perbicangan mbeleber ke mana-mana dari hanya sekedar "Mau ke mana, mas?", sampai ke masalah pribadi saya. Ah, saya selalu mudah terpancing untuk curcol. Untung tidak sampai cerita soal jodoh. hehehe

stasiun solo jebres

Kemudian perbincangan semakin seru karena saya terlanjur keceplosan memberitahukan identitas asli saya. Ibu itu bertanya tentang ekonomi syariah --jurusan saya, yaitu apalagi kalau bukan soal perbedaan riba dan bagi hasil. Sebuah isu klasik yang mengemuka jika dihadapkan pada istilah ekonomi syariah. Saya jawab saja sekenanya, maksudnya sepenangkapan saya selama ini dan dari buku yang tadi belum sempat saya ambil. Di buku itu "kebetulan" dibahas soal fundamental ekonomi Islam.

Saya merasa, pertanyaan beliau seolah-olah hanya mengetes saya saja. :D Dari aura keduanya, saya yakin mereka orang berpendidikan, walaupun saya tidak berani bertanya soal pribadi mereka, bahkan nama. :D Saya hanya bertanya dalam rangka apa mereka melakukan perjalanan ke Jawa Timur, menggunakan kereta yang sama dengan saya, hanya arahnya berlawanan. Dan jadwal keberangkatan saya jam 00.10, sedangkan kereta mereka pukul 01.00. Dan, pertanyaan itu tidak dijawab dengan terus terang. :D Bapak itu hanya memberi clue ada pertemuan dengan anak-anak mereka yang berangkat dari Jakarta dan kota lain, sepemahaman saya begitu.

Ngomong-ngomong soal Jakarta, yang menarik, mereka juga mengenal sosok pak Syafii Antonio, seorang penggiat perekonomian syariah di Indonesia. "Kebetulan" sekali, saya juga sudah lama ngefans terhadap beliau --atau entah apa kata yang lebih tepat. Dari situ saya mengambil kesimpulan, pastilah mereka orang berpendidikan, dan yang pasti anak-anak mereka juga berpendidikan tinggi.

...

Hingga akhirnya tibalah waktu untuk berpisah, karena setiap pertemuan akan berakhir dengan perpisahan. Halah, jadi baper. Sebenarnya cuma pintu masuk peron sudah dibuka, kira-kira jam 23.00. Itu pun saya tahu dari ibu yang berbincang dengan saya tadi. Kalau saya baper, saya beranggapan bahwa beliau memberi kode agar saya segera masuk, dan sudah cukup ngobrolnya. Hehehe, ndak bu, pak, saya ndak kepikiran begitu kok. Pamitan saya berantakan. Kata-kata saya tidak pas. Ah, perfeksionis. Tapi bapak dan ibu tadi tetap menjawab dengan ramah dan mendoakan semoga selamat di perjalanan. Dan saya lupa mendoakan balik. :( Jika bapak dan ibu --dengan segala "kebetulan" yang indah-- membaca tulisan saya ini, saya mohon maaf atas ketidaksopanan saya, dan semoga bapak dan ibu senantiasa diberi kesehatan. Barangkali kita bisa bersua kembali di suatu hari.

Pulang

Akhirnya, melewati pukul 12 malam, kereta yang dinantikan tiba. Saya dapat kursi yang sudah ditempati 2 orang wanita dari asal kereta.4 Dan mereka ternyata turun di Semarang Tawang. Lumayan sekali, kursi sebelah saya kosong sampai Pekalongan. Bisa buat tiduran. :D

Kereta Matarmaja sampai di Pekalongan tepat waktu subuh. Dan saya lupa satu hal: saya belum mengabari sang penjemput! Ah, dia pasti masih tidur. Keluar dari stasiun, saya langsung meneleponnya, dan syukurlah dia mau bangun. :D Di jalanan saya sudah melihat beberapa mas-mas Go-Jek yang mangkal agak jauh dari stasiun. Mengingatkan saya tentang daerah terlarang untuk penjemputan dan penurunan penumpang Gojek di stasiun Tugu. Berarti di situ juga ada clash antara Gojek dan ojek tradisional.

Setelah menunggu sekitar 1 jam, sang penjemput tiba --daripada naik Gojek lumayan mahal soalnya rumah saya jauh. :D Dan mentari pagi di ufuk timur menyambut kami dengan senyuman indahnya kala itu. :)

...

Dan sebagai bonusnya sejumlah pelajaran dan kesadaran telah meresap ke dalam sanubariku.



  1. Saat itu karena belum begitu hafal Jogja, saya belum menyadari kalau seandainya saya menyeberangi rel dan berjalan lurus, saya akan memasuki kawasan jalan Malioboro. Juga waktu itu saya terlalu fokus dengan tiket kereta sih, jadi tidak menghiraukan keadaan lingkungan sehingga sama sekali tidak melihat plang tulisan jalan Malioboro. Yang saya ingat hanya keramaian yang tidak biasa, saya kira itu tempat lain di Jogja yang juga ramai dikunjungi orang-orang. 

  2. Waktu itu saya sama sekali belum sadar (baca juga footnote pertama) kalau pasar Kembang itu adalah si pasar Kembang yang terkenal itu. Saya hanya mengartikan secara harfiah saja saat diberi tahu security di mana letak loket kereta Prameks, juga saat pertama kalinya saya naik Go-Jek di sebelah barat Stasiun Tugu beberapa waktu lalu dan diberitahu mas driver batas daerah yang diperbolehkan mengambil atau menurunkan penumpang di sekitaran Tugu. Saya pikir di situ memang sebuah pasar tempat orang-orang menjual kembang atau bunga. Tapi memang anehnya, saat saya melewati daerah itu, saya tidak menjumpai tempat yang khas seperti layaknya pasar. Aneh, pikir saya. 

  3. Dodit Mulyanto, stand up comedian yang tersohor itu. 

  4. Malang, mungkin. 

15/06/2017

selamat datang

Ini adalah tulisan pertama yang baru lagi di blog ini. Sebagai pembuka, saya hanya ingin menceritakan sekilas mengenai blog ini. Saya sebenarnya sudah punya beberapa blog, salah satunya di Wordpress. Selain itu juga ada beberapa lainnya, tetapi beberapa waktu ini sudah cukup lama saya tidak menerbitkan tulisan baru.

Menurut riwayatnya, blog ini (blog.badwi.my.id) awalnya dibangun dengan Wordpress self-hosted. Sudah berjalan sekitar setahun lebih, dan telah saya isikan sejumlah tulisan. Tetapi lagi-lagi, alasan yang sama seperti pada blog-blog saya sebelumnya menjadikan blog ini tak terurus, terbengkalai. Hingga akhirnya sejak awal tahun ini sampai berganti engine blog, saya rajin menulis. Waktu itu seperti muncul jiwa pujangga yang secara tiba-tiba mudah memunculkan kata-kata puitis dan sastrawi yang menjadi inspirasi tulisan-tulisan. Ah, kata-kata ini mulai terdengar alay, kembali ke topik saja.

Edit: Saya telah memutuskan untuk mengimpor (hampir) semua tulisan dari yang sebelumnya, dan memilah serta menyunting sebagiannya.

Saya kembali menghidupkan blog yang satu ini karena saya ingin tetap menulis. Menulis adalah passion suatu kegiatan yang sangat berarti bagi saya. Entahlah, biarpun kualitas tulisan saya di bawah rata-rata, saya senantiasa percaya diri untuk menulis. Toh jika dilatih terus-menerus (asalkan kontinyu), kualitas itu akan meningkat seiring berjalannya waktu. Dengan menulis, saya merasa bisa berbicara pada dunia. Dan barangkali, ada satu atau dua kebaikan dan manfaat dalam tulisan saya yang berguna untuk pembaca, siapa tahu.

16/03/2017

Cinta Bahasa Jepang

Rasanya saya sudah tidak bersemangat lagi mempelajari bahasa Jepang, sampai terbersit satu pikiran untuk berhenti mempelajarinya saja. Tetapi ia terlalu indah untuk ditinggalkan. :haha:

Dan di saat kebimbangan itu muncul, datanglah sebuah pengingat. Mungkin saya harus terus belajar dan mencintainya. Yang mana pengingat ini sangat bermakna, bagi saya pribadi.

Saya hampir lupa kalau beberapa waktu lalu saya mengikuti tes JLPT level N5 di Jogja. Salah satu penyebabnya adalah karena saya tidak bisa melihat hasil ujian secara online. Password yang didapat saat pendaftaran entah dikirim ke mana, karena saya minta tolong didaftarkan teman saya yang di Jogja sana. Entah email siapa yang didaftarkan, saya tidak ingat. :laughing:

Karena itulah, saya jadi pasrah saja. Memang dengar-dengar dari seorang teman yang pernah ikut ujian itu, hasil resminya akan dikirim via pos pada bulan Maret. Tapi ditunggu-tunggu kok belum datang sebelum hari kemarin.

Dan akhirnya pak pos membawakan kejutan yang indah. :smile:

Ini pengalaman pertama saya ikut ujian JLPT, jadi ini adalah pengalaman yang sangat berkesan. Sebenarnya saya ikut ujian yang levelnya paling rendah, paling mudah. Sekedar untuk mengukur seberapa kemampuan bahasa Jepang yang saya pelajari. Dan walaupun itu adalah ujian level termudah, saya jadi percaya diri untuk belajar bahasa Jepang, lagi. Ganbaranakya, boku wa!

08/03/2017

Arab Musik

https://youtu.be/GK661psBTiQ

Di kelas, pak guru tiba-tiba bersenandung "kun anta tazdad jamala". Saya jadi ingat, sepertinya itu syairnya sebuah lagu Awakening Records. Ternyata betul. Yang dulunya saya sama sekali tidak tertarik buat play, karena musik itu haram bro, akhirnya saya play. Ya, sekedar untuk belajar bahasa Arab laah, toh pak gurunya juga suka.

18/02/2017

Facebook

Lagi lagi saya bahas tentang facebook. Sekuat apa pun mencoba lari darinya, seolah ia terus bisa menangkapku.

Oke, itu drama.

Hari ini, eh tanggalnya sudah ganti... Berarti kemarin, tiba tiba saja saya bisa login ke facebook, tanpa recovery akun dengan mengirim KTP ke mereka. Eman eman banget, nanti bisa bisa saya jadi tenar. 🙄

Hah, longest streak bersemedi dari facebook kembali terpatahkan. That's kinda...

Mungkin itu karena memang saya mencari cari cara untuk bisa login, dan Tuhan menunjukkan dengan cara-Nya.

16/02/2017

Kekinian Oleng

Ada satu kata lagi yang saya kira itu istilah kekinian, ternyata (mungkin) sudah populer sejak lama. Saya merasa seperti baru pulang dari planet Mars. 🙄 eh... Lebih tepatnya dari dalam gua, terisolasi dari peradaban. Mungkin hal yang saya lewatkan masih ada lebih banyak lagi. Tolong beri tahu saya.