Lagu kita berbeda

Karena sudah tidak bisa menggalau di facebook, mau tidak mau lewat blog ini saja. Tetapi galaunya elegan dong. Galau yang menumbuhkan kreativitas sastrawi. Hahaha… Dalih.

Saya juga belum begitu paham sih, kenapa seperti ini. Ada semacam kekuatan yang menggerakkanku secara otomatis untuk menulis. Padahal kualitas tulisan ini di bawah standar, dan tidak layak dikonsumsi publik. Haha…

Tulisan ini dibuat sebagai curahan rasa yang tak bisa terungkapkan. Daripada mubazir, kan lebih baik dibagikan ke khalayak, barangkali ada yang sudi memungut. Saya harap tak ada yang merasa terluka oleh tulisan ini. 🙊

Lagu kita berbeda. Laguku penuh kegembiraan, lagumu penuh kesedihan. Laguku penuh cinta, lagumu penuh derita. Bukankah seharusnya kita bisa saling melengkapi. Aah… Indahnya. Dunia ini akan terasa begitu berwarna, seandainya kita bisa bersama. Tetapi kau bilang, cinta tak harus bersama. Menurutku cinta tak berarti memiliki. Begitulah cinta, deritanya tiada akhir. Kata Chupatkai.

Andai saja kau utarakan

Jika saja saat itu kau bilang terus terang, “menjauhlah dariku”, pasti semua ini akan lebih mudah untuk kulalui. Kamu, iya kamu, seseorang yang aku maksud.

Tetapi kita tak perlu menyesali, karena ini sudah suratan. Hanyalah aku yang tak pernah mau belajar, kecuali sampai saat-saat terakhir. Padahal petunjuknya sudah jelas.

Kini, perlukah aku mengucapkan maaf? Kurasa terima kasih lebih pantas aku ucapkan, sebagai rasa syukurku atas segala rasa yang telah tumbuh di sini, di dalam sanubariku. Segalanya adalah permata hati yang tak ternilai, takkan terlupa, kupastikan itu.

Jika pun aku masih harus mengucapkan maaf, itu pasti karena keserakahanku yang menikmati ini sendirian, tanpa peduli betapa mungkin kau terluka. Tetapi sebenarnya aku peduli, kuberitahu. Meskipun kau tak mau tahu, atau bahkan tak butuh tahu.

Tatta hitokoto tsutaetai: arigatou” ~Kokia

Tentang kutipan atau quote

Hari ini, saya membahas tentang quote atau kutipan. Sejak beberapa waktu belakangan, saya jadi hobi mengumpulkan quotes. Dari siapa saja, saya like, termasuk pernah saya like quote dari “orang bodoh”. Quotenya seperti ini: “was andere Menschen von dir denken ist nicht dein Problem“. Iya, itu bahasa Jerman. 😀 saya dapat dari sebuah FB page bahasa Jerman. 

Suatu hari, quote itu (atau zitat dalam bahasa Jerman) dimunculkan lagi. Saya langsung like, dan tanpa sengaja saya melihat sebuah komen yang tampaknya tidak setuju. Komentar itu mengatakan, “tolong jangan quote dari orang itu, dia bodoh”, kira-kita begitu. Ternyata ada beberapa komentar yang senada dengan itu di bawahnya.

Kalau diterjemahkan, kutipan itu berarti “apa yang dipikirkan orang lain atas dirimu, itu bukan masalahmu”. Sepintas terlihat biasa saja, dan menurut saya ada benarnya, waktu itu. Apalagi saya sedang mencari konsep diri di dalam masyarakat. 🙊 minda saya langsung mengiyakan tanpa protes.

Namun setelah saya membaca komentar tadi, hati nurani saya tergugah. Memang yang dipikirkan orang lain itu bukan masalah kita, lebih ke masalah mereka. Tetapi bukankah kita yang menyebabkan masalah tersebut? 😀

Manusia memang berbeda-beda, kita sudah mafhum. Ada yang suka menilai orang lain, ada yang cuek, dlsb. Jika orang lain masih mau memikirkan kita, artinya dia begitu perhatian kepada kita. Tetapi masalahnya, yang dipikirkan mereka itu apa? Positif, ataukah negatif itu yang tidak kita ketahui. Dan jika hanya mereka pendam dan justru jika dijadikan bahan obrolan dengan orang lain, itu sudah bukan masalah mereka saja. Itu sudah jadi masalah untuk kita juga.

Yah pembahasan ini sudah sedikit melenceng dari bahasan pokok. Jadi, intinya sejak saya salah memahami kutipan itu, saya jadi lebih selektif dengan pemilik kutipan. Kutipan tadi itu adalah kutipan seorang komedian ternyata. Itulah maksudnya kenapa ia dibilang bodoh, dan maksud dishare di FB page itu untuk sekedar humor, yang saya anggap serius.

Hakikat kutipan

Salah satu semangat saya menyukai kutipan adalah dari sebuah hadits1 yang artinya kira-kira:

“Kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, maka dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya”

Kebanyakan kutipan mengandung hikmah, kecuali kutipan “bodoh” tadi ya. Jadi, jika sekiranya ia bermanfaat, maka kita bisa menjadikannya ilmu. Karena kutipan-kutipan itu diperoleh bukan dari orang-orang sembarangan. Mereka biasanya orang-orang terkenal atau orang-orang sukses yang mana kuipan mereka terinspirasi dari pengalaman hidup mereka.

Kutipan gambar mim

Saat ini ada fenomena humor populer melalui gambar, atau disebut meme (dibaca mim). Gambar-gambar itu biasanya sama, hanya beda kata-kata yang lucu. Sebagian gambar-gambar itu, karena ingin terlihat lucu, ada yang mengatasnamakan kutipan oleh orang ternama. Ini sangat disayangkan sebenarnya. Saya anggap sebagai sebuah kedustaan. Coba lihat contoh berikut2:

Menurut pembuat gambar, itu hanya plesetan. Tetapi rasanya kurang etis jika mencatut nama tokoh asli. Bagi orang yang tidak paham, bisa saja itu akan dianggap benar-benar ucapan sang tokoh.

Semakin membuat diri ini waspada terhadap kemungkinan kutipan abal-abal.

^1: hadits tersebut sebenarnya ghariib http://umar-arrahimy.blogspot.co.id/2015/03/takhrij-hadits-hikmah-milik-orang.html

^2: http://www.lucu.me/2016/05/20-meme-plesetan-quotes-tokoh-tentang.html

MITM dan penikung

MITM, sebuah istilah “keren” yang tersemat pada sebagian hacker. Bagi saya itu keren, karena saya hanya bisa terkagum-kagum oleh kemampuan mereka.

Lalu, apa itu penikung? Hmm, entahlah, itu satu kata asing yang bahkan di KBBI pun tidak akan kita temukan –setidaknya saat tulisan ini diterbitkan. http://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Penikung

Saya pakai kata itu seperti biasa, sebagai kritik sinis atau sekadar sarkas yang saya tertawakan sendiri. 😨 sama halnya seperti kata-kata baper, jomblo, jones, kepo, oleng, atau apalah yang kekinian.

Kembali ke mitm, ia adalah singkatan dari “man in the middle” attack. Yaitu sebuah teknik hacking yang dilakukan “di tengah-tengah” dua pihak yang saling menjalin cinta, eh komunikasi. Sang attacker menyadap jalinan komunikasi tersebut sedemikian rupa sehingga kedua pihak tak ada yang mengetahui bahwa mereka disadap. Jelas beda dengan penikung ya. 😀

Saya bukan hacker yang anda maksud, jadi saya tidak bisa menjelaskannya secara terang dan rinci. Dan jelas sebenarnya antara mitm dan penikung tak ada hubungan apa-apa. Mereka sama-sama jomblo. 🙊

Antara khayalan, memori dan deja vu

Perasaan itu tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Gambaran yang muncul di benakku sangat acak dan menggugah jiwa. Suasana pegunungan, pepohonan, semilir angin yang berhembus, air yang mengalir. Entah apa itu tepatnya. Tetapi rasanya luar biasa. Apakah itu bisa disingkat dengan satu kata: Cinta? Baper? Aku pun masih mengevaluasinya.

P.S. Ini adalah catatan akhir tahun.

Manusia akan terus belajar

Belajar adalah proses yang berkelanjutan yang akan kita jalani hingga akhir hayat. Setiap detik, setiap saat yang bergulir secara konstan, begitu pula kehidupan yang dinamis ini memaksa kita untuk terus belajar dan belajar.

Saya merasa sudah banyak sekali mempelajari hal-hal. Tetapi ternyata lebih banyak lagi yang masih harus saya pelajari. Awalnya terasa malas untuk memulai dari nol lagi, tetapi setelah menyadari bahwa belajar adalah proses tanpa henti, akhirnya tak ada lagi kata malas.

Manusia mempelajari berbagai hal dalam rangka menuju pribadi yang lebih baik. Yang mana nantinya akan berguna tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga demi kemashlahatan bersama.

Manusia hanya mampu melihat dhohirnya

Kita punya dua mata, tapi hanya bisa fokus pada satu objek. Kita juga punya mata hati, tapi tak banyak dari kita yang bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Hanya yang hatinya bersihlah yang bisa.

Sebenarnya hal itu sudah saya sadari sejak lama. Saya diam saja karena gak ada yang tanya. Hehe… siapa pula yang mau nanya.

Artinya bahwa kita, manusia (ya, saya juga manusia ngomong-ngomong), ada keterbatasan. Kita hanya bisa menilai segala sesuatu dari yang tampak, tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik semua itu. Seperti misalnya ramai tentang berita hoax beberapa waktu lalu.

Tetapi selain karena keterbatasan secara fitrah, ada faktor lain dari kita sendiri yang menghalangi kita untuk memahami. Yaitu kebencian dan keras hati.

Seberapapun nyatanya fakta yang terjadi, jika hati kita dipenuhi kebencian, kebenaran apapun yang sampai pada kita tak akan menggoyahkan kekerasan hati kita untuk menolak mempercayainya. Pernah merasakannya?

Selain itu, ada pula kasus yang mana kita enggan untuk menerima klarifikasi atau pencerahan atas apa yang terjadi, dikarenakan kekerasan hati tadi. Kita tetap kukuh pada argumen pribadi kita walaupun kita sadar bahwa terkadang itu hanyalah nafsu berbalut egoisme.

Salam ikhlas! Mari benahi hati, sucikan fikiran. Demi kemashlahatan bersama.

Apa yang anda pikirkan ketika mendengar “jav”?

“jav” sebuah kata asing bagi kita tentunya. Tapi bagi sebagian orang dan sebagian orang lain, dia tidak begitu asing. Saya sebut dua “sebagian”, karena memang kata ini mempunyai dua makna, yang satu berkonotasi negatif, sedangkan lainnya netral. (saya di golongan netral lho)

Golongan pertama

Golongan ini adalah golongan minoritas di masyarakat kita. Biasanya terdiri dari kelompok usia remaja. Ayo jujur saja pada diri pembaca yang [maaf] “piktor” pasti langsung mengarah pada video-video itu. 😀 No offense yah. Saya sih cukup tahu saja.

Golongan kedua

Golongan kedua ini jumlahnya (saya yakin) lebih sedikit daripada golongan pertama. Golongan ini lebih prestisius. Mereka peduli pada kelestarian sebuah budaya. Jadi, “jav” yang dimaksud bukan berkaitan dengan video, tetapi ini adalah kode bahasa untuk bahasa Jawa (Javanese) yang telah ditetapkan oleh ISO. Golongan ini mengakui keberadaan bahasa Jawa di kancah internasional, walaupun sebagian besar dari mereka, saya yakin bukan orang Jawa. Spesifikasinya bisa dibaca di laman wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/Javanese_language atau di http://www-01.sil.org/iso639-3/documentation.asp?id=jav

Jadi, anda termasuk golongan mana? 😀

Ghodul bashor, ternyata se-simpel itu

Akhirnya terungkap sudah, satu hal yang menggangguku selama bertahun-tahun. Satu hal yang gagal kupahami hingga membelenggu diriku untuk meraih masa depan yang cemerlang. 😀 sok puitis maksudnya

Kemarin mendapat momen itu, yaitu bertanya kepada yang lebih berilmu tentang ghodul bashor. Satu mata kuliah kehidupan yang belum tuntas sejak lama.

Saya bertanya pada sahabat seperjuangan di IAIN Pekalongan, yang merupakan seorang Ustadz di Pondok Pesantren Tazakka, Bandar, Batang. Seorang lulusan Gontor, pastinya tidak diragukan lagi keilmuannya. Beliau sangat humble, dan tenang. Saya jadi tidak sungkan untuk bertanya soal agama. (Juga sudah dibahas pada tulisan sebelum ini)

Jadi, saya bertanya apa itu ghodul bashor secara singkat agar bisa saya pahami. Menurut beliau, singkatnya ghodul bashor ketika bergaul dengan teman perempuan adalah dengan cara:

Pikiran hilang dari kata perasaan / atau Cinta terhadap wanita. Jadi kan dirimu seperti orang biasa2 aja… Seolah-olah  dirimu adalah dirimu sendiri. Jangan Baper kalau ngomong sama perempuan. Hilang tuh kata Baper.

Baper lagi, baper lagi. 😀 Semenjak kata ini booming beberapa waktu lalu, saya jadi sering memakainya, yang awalnya cuma sebagai sarkas atau kritik sinis terhadap kata gaul yang merusak tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sekarang malah jadi kebiasaan menggunakannya. Dan justru saya mengalaminya. :'(

Ya, jadi intinya kita harus bisa menyembunyikan cinta / perasaan saat bergaul dengan wanita. Padahal “cinta dan batuk tidak bisa disembunyikan”. Jika kita bergaul dengan wanita yang kita sukai, akan sedikit lebih rumit tuh. 😀

Oke, tenang, dengan mengetahui secara jelas ilmunya, kita pasti bisa belajar sedikit demi sedikit. InsyaAllah berkah.